Ahlan Wa Sahlan

Sabtu, 30 Mei 2009

Shalahudin Al Ayyubi


”Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya.”

Kisah di atas bukan skenario film yang fiktif, tapi sungguh-sungguh pernah terjadi. Itu adalah pengakuan seseorang bernama Raymond, salah satu serdadu Perang Salib I. Pengakuan ini didokumentasikan oleh August C Krey, penulis buku The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses and Praticipants (Princeton and London: 1991).

Bagi kaum Muslimin, Perang Salib I (1096-1099) memang menyesakkan. Menurut catatan Krey, hanya dalam tempo dua hari, 40.000 kaum Muslimin dan Yahudi di sekitar Palestina, baik pria maupun wanita, dibantai secara massal dengan cara tak berperikemanusiaan. Cara pembantaiannya tergambar dalam pengakuan Raymond di atas.

Sepak Terjang Tentara Salib

Sejak tentara Islam yang dipimpin Khalifah Umar bin Khattab (638 M) yang berhasil membebaskan Palestina dari dari kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) sampai abad ke-11 M, Palestina berada di bawah pemerintahan Islam dan merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Namun kedamaian itu seolah lenyap ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan invasi.

Ceritanya bermula ketika orang-orang kekhalifahan Turki Utsmani merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki) dari kekuasaan Raja Byzantium, Alexius I. Raja ini kemudian minta tolong kepada Paus Urbanus II, guna merebut kembali wilayah itu dari cengkeraman kaum yang mereka sebut “orang kafir”.

Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran yang ambisius (27 November 1095). Tekad itu makin membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakim—yang menguasai Palestina saat itu—menaikkan pajak ziarah ke Palestina bagi orang-orang Kristen Eropa. “Ini perampokan! Oleh karena itu, tanah suci Palestina harus direbut kembali,” kata Paus.

Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi pada tahun 1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja di seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan, kesejahteraan, emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para ksatria yang mau berperang.

Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis Selatan—terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat sipil—untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa yang bertikai segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci Palestina. Hadirin menjawab dengan antusias, “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!)

Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa mereka akan pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan ekspedisi ini sebagai “Perang Demi Salib” untuk merebut tanah suci.

Mobilisasi massa Paus menghasilkan sekitar 100.000 serdadu siap tempur. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter memimpin kaum miskin dan petani. Namun mereka dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di medan pertempuran Anatolia ketika perjalanan menuju Baitul Maqdis (Yerusalem).

Tentara Salib yang utama berasal dari Prancis, Jerman, dan Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Godfrey dan Raymond (dari Prancis), Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), dan Robert Baldwin dari Flanders (Belgia). Pasukan ini berhasil menaklukkan kaum Muslimin di medan perang Antakiyah (Antiokia, Suriah) pada tanggal 3 Juni 1098.

Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib membantai orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi. Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099. Mereka langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan pembantaian. Sekitar lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099, mereka berhasil merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah.

Teladan Shalahuddin Al-Ayyubi

Pada tahun 1145-1147 berlangsung Perang Salib II. Namun pada peperangan ini tidak terjadi pertempuran berarti karena ekspedisi perang tentara Eropa yang dipimpin oleh Raja Louis VII dari Perancis gagal mencapai Palestina. Mereka tertahan di Iskandariyah lalu kembali ke negara asalnya.

Perang besar-besaran baru terjadi sekitar empat dasawarsa berikutnya pada Perang Salib III (1187-1191). Pada masa itu, Kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, yaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo (bermazhab Syi’ah) dan Dinasti Seljuk yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni). Kondisi ini membuat Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang Dinasti Fathimiyah, merasa prihatin. Menurutnya, Islam harus bersatu untuk melawan Eropa-Kristen yang juga bahu-membahu.

Melalui serangkaian lobi, akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menyatukan kedua kubu dengan damai. Pekerjaan pertama selesai. Shalahuddin kini dihadapkan pada perilaku kaum Muslimin yang tampak loyo dan tak punya semangat jihad. Mereka dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Spirit perjuangan yang pernah dimiliki tokoh-tokoh terdahulu tak lagi membekas di hati.

Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad.

Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran.

Shalahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas para pemuda dari berbagai negeri Islam. Pasukan ini kemudian berhasil mengalahkan Pasukan Salib di Hittin (dekat Acre, kini dikuasai Israel) pada 4 Juli 1187. Pasukan Kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul Maqdis.

Dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari Chatillon (Prancis) dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Shalahuddin. Reynald akhirnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti memimpin pembantaian yang sangat keji kepada orang-orang Islam. Namun Raja Guy dibebaskan karena tidak melakukan kekejaman yang serupa.

Tiga bulan setelah pertempuran Hittin, pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem dalam Isra’ Mi’raj (bertepatan 2 Oktober 1187), pasukan Shalahuddin memasuki Baitul Maqdis. Kawasan ini akhirnya bisa direbut kembali oleh pasukan Islam setelah 88 tahun berada dalam cengkeraman musuh.

Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal 2 Oktober 1187 itu, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”

Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)

Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin bahkan menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga sedih melihat penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka dan membebaskannya saat itu juga.

Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain, dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre (Libanon).

Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks–bukan bagian dari Tentara Salib—tetap dibiarkan tinggal dan beribadah di kawasan itu.

Kemenangan tentara Islam yang dipimpin Shalahuddin membuat marah dunia Kristen. Mereka kemudian mengirimkan pasukan gabungan Eropa yang dipimpin Raja Perancis Phillip Augustus, Kaisar Jerman Frederick Barbarossa dan Raja Inggris Richard “Si Hati Singa” (the Lion Heart).

Pada masa ini pertempuran berlangsung sengit. Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre.

Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh.

Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin.

***

Perang Salib IV berlangsung tahun 1202-1204. Bukan antara Islam dan Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan Takhta Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki).

Pada Perang Salib V berlangsung tahun 1218-1221. Orang-orang Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang merupakan pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total.

Kaisar Jerman, Frederick II (1194-1250), mengobarkan Perang Salib VI (1228), tapi tanpa pertempuran yang berarti. Ia lebih memilih berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan Shalahuddin. Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa `alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen.

Dua Perang Salib VII (1248-1254) dan Perang Salib VIII (1270) dikobarkan oleh Raja Perancis, Louis IX (1215-1270). Tahun 1248 Louis menyerbu Mesir tapi gagal dan ia menjadi tawanan. Perancis harus menyerahkan emas yang sangat banyak untuk menebusnya.

Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan Dinasti Mamaluk, Bibars. Louis meninggal di medan perang.

Sampai di sini periode Perang Salib berakhir. Namun, beberapa sejarawan Katholik menganggap bahwa penaklukan Konstantinopel (ibukota Byzantium, Romawi Timur) oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki (1453) juga sebagai Perang Salib. Penaklukan Andalusia, kawasan Spanyol Selatan yang diperintah dinasti Bani Ummayyah, oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella (1492), juga dianggap Perang Salib.

Zhao Kuangyin, jenderal perkasa pendiri Dinasti Song

Kaisar Song Taizu (Hanzi: 宋太祖, 21 Maret 927-14 November 976), yang nama aslinya Zhao Kuangyin (赵匡胤), adalah pendiri sekaligus kaisar pertama Dinasti Song, Tiongkok, ia bertahta dari tahun 960 hingga 976.

Kehidupan awal
Zhao dilahirkan di Zhuozhou, Provinsi Hebei. Ia adalah keturunan Zhao Ting, pejabat pada akhir Dinasti Tang. Ayahnya, Zhao Hongyin adalah seorang pejabat militer dan ibunya, Nyonya Du, adalah seorang wanita yang bijak. Sejak kecil Zhao telah mempelajari karya-karya klasik, strategi perang dan ilmu bela diri sehingga tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah, brilian, dan pemberani. Setelah karir ayahnya mulai surut, Zhao yang ketika itu berusia 21 tahun memutuskan untuk meninggalkan kediaman keluarganya untuk mengadu nasib di tempat lain. Ia berkelana kemana-mana untuk mencari pekerjaan dalam pemerintahan namun berulang kali ditolak.

Pada akhirnya karena kehabisan uang, ia tinggal di sebuah biara Tao di Xiangyang, Hubei. Kepala biara tempatnya menginap mengenali talentanya, ia menyadari pemuda ini mempunyai prospek cerah, maka ia memberinya uang dan menasehatinya untuk menuju ke Henan, dimana panglima perang Guo Wei sedang merekrut orang-orang berbakat dan mengadakan persiapan perang. Zhao pun mendaftarkan diri sebagai prajurit dan diterima. Sejak itulah kehidupannya mulai menemui titik terang.


Zhao Kuangyin, sang jenderal perkasa
Tahun 951, Guo Wei mendirikan Dinasti Zhou (dalam sejarah dikenal dengan Zhou Akhir, 后周) dan memproklamirkan dirinya sebagai Kaisar Zhou Taizu. Namun ia hanya tiga tahun menduduki singasananya. Tahun 954, setelah kematiannya, putra angkatnya, Guo Rong (Chai Rong) menggantikannya sebagai kaisar dengan gelar Kaisar Zhou Shizong. Dibawah Kaisar Shizong, karir Zhao semakin menanjak, ia meraih banyak prestasi dan menjadi jenderal yang paling berkuasa di Dinasti Zhou. Di medan perang ia tampil sebagai jenderal yang disegani kawan maupun lawan.

Dalam suatu pertempuran melawan Huang Fuhui dari Dinasti Tang Selatan, ia mengalami kekalahan. Kemudian ia mendengar ada seorang ahli strategi berbakat bernama Zhao Pu. Ia pun menemui Zhao Pu untuk meminta nasihat dan berhasil memenangkan simpatinya. Dengan strategi Zhao Pu, ia melancarkan serangan kejutan ke perkemahan Huang pada tengah malam lewat jalan pintas di perbukitan. Pasukan Huang yang tidak menduga serangan dadakan itu langsung kocar-kacir. Kemenangan atas Huang Fuhui ini meningkatkan citranya di mata publik dan Kaisar Shizong. Atas jasanya, ia dipromosikan menjadi gubernur militer, jabatan yang menjadi batu loncatan menuju karirnya ke jenjang yang lebih tinggi kelak.


Kudeta Chenqiao
Pada tahun 959, Kaisar Zhou Shizong tiba-tiba wafat karena sakit. Putranya, Guo Zongxun, yang baru berusia tujuh tahun naik tahta sebagai Kaisar Gong dari Zhou. Tidak lama setelahnya datang laporan darurat dari perbatasan yang melaporkan bahwa pasukan Han Utara bersama dengan suku Qidan telah melancarkan serangan ke perbatasan Zhou. Saat itu pihak istana sedang sibuk berpesta pora sementara pasukan penjaga perbatasan sedang mempertaruhkan jiwa raga menahan serbuan musuh.

Menjelang malam ketiga, pasukan Zhao telah berkumpul dan berkemah di Chenqiao, 20 km timur laut dari ibukota Zhou, Kaifeng. Pada tengah malam para prajurit yang kecewa dengan pihak istana memberontak, mereka menyatakan tidak bersedia mempertahankan negara kalau komandan mereka, Zhao Kuangyin tidak dijadikan kaisar. Para perwira dan Zhao Kuangyi (赵匡义), adik Zhao, menghadap ke kemahnya. Mereka memintanya menjadi kaisar. Zhao ragu-ragu menerimanya dan sebelum sempat menjawab, seorang perwira sudah mengenakan jubah kuning (warna yang hanya boleh dipakai kaisar) padanya. Kemudian mereka bersujud di hadapannya dan berseru, “Hidup Yang Mulia!â€�

Zhao berulang kali menolak dengan lembut, namun ia akhirnya menerima juga keputusan mereka dengan syarat mereka menaati perintahnya dan menuntut kepastian agar setelah masuk ke ibukota nanti, kaisar, keluarga kerajaan, dan para pejabat harus diperlakukan secara manusiawi dan rakyat jangan diganggu, hukuman tegas akan dijatuhkan bagi mereka yang melanggarnya. Pasukan pemberontak itupun memasuki ibukota dengan tertib tanpa mengusik rakyat. Para pejabat istana yang telah membaca situasi memutuskan untuk tunduk pada sang kaisar baru. Demikianlah kudeta itu berlangsung dengan gemilang tanpa meneteskan darah. Zhao Kuangyin dimahkotai sebagai kaisar pertama Dinasti Song dengan gelar Kaisar Song Taizu di Istana Chongyuan.


Pemerintahan
Ketika naik tahta, Zhao mewarisi segudang masalah yang sulit terpecahkan, yaitu menyatukan Tiongkok yang telah terpecah-belah selama setengah abad pada Jaman Lima Dinasti dan Sepuluh Negara. Ia memang berhasil menaklukkan negara-negara di selatan seperti Han Selatan, Tang Selatan, Wuyue, dan Shu Akhir, namun di utara masih ada Han Utara yang kuat dan suku-suku barbar seperti Qidan dan Nuzhen. Ia juga masih harus menangani kerusuhan yang terjadi di wilayahnya sendiri.

Untuk kebijakan dalam negeri, Kaisar Taizu menyusun tata cara dan kebijakan Song untuk pegangan bagi kaisar-kaisar berikutnya dan mereformasi sistem ujian kerajaan. Ia juga mendirikan institusi politik yang memungkinkan kebebasan berpikir dan berserikat sehingga menghasilkan kemajuan ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahannya ekonomi, seni, dan literatur berkembang dengan pesat.


Mengambil alih kuasa militer dengan arak
Dinasti Tang runtuh karena kekuasaan kaum militer terlalu besar sehingga mereka saling bertikai satu sama lain dan negara terpecah. Kaisar Taizu menyadari hal ini dan mengadopsi kebijakan-kebijakan yang mengurangi kekuasaan para jenderal dan mengalihkannya pada pemerintah pusat. Ia sadar dirinya pun naik ke tahta melalui kudeta militer, sejarah bisa saja terulang kembali dan bukan tidak mungkin bawahannya merebut kekuasaan darinya. Maka, atas saran Zhao Pu, yang kini telah diangkat menjadi perdana menteri, Kaisar Taizu memutuskan pejabat militer tidak diberi kuasa terlalu besar.

Tahun 961, Taizu mengundang jenderal-jenderalnya dalam sebuah jamuan. Ketika semua sudah mulai mabuk, mulailah ia mengutarakan kerisauannya. Ia berkata dengan berat hati bahwa walaupun telah menikmati kehormatan seperti sekarang ini, ia masih belum bisa tidur dengan nyenyak. Ketika mereka menanyakan alasannya, ia menjawab bahwa bukankah masih banyak orang yang ingin memerintah sebagai kaisar. “Akan tetapi situasi sekarang sudah terjadi, tidak seorang pun akan berani mengadakan kudeta lagi. Mengapa Yang Mulia berkata demikian ?� tanya salah seorang dari mereka. “Tentu bukan kalian yang memberontak, namun, seandainya bawahan kalian dengan paksa mengenakan jubah kerajaan pada kalian seperti yang kalian lakukan terhadap saya dulu, kalian pasti sulit memutuskan.� Para jenderal itu sadar bahwa Taizu tidak mempercayai seorangpun dari mereka. Mereka pun bersujud menyatakan kesetiaan penuh mereka.

Melihat apa yang diinginkannya telah tercapai, Taizu memberikan penawaran pada mereka. Dia berkata bahwa bukankah mereka telah mencapai kehormatan dan sukses sehingga mengapa mereka tidak merelakan kekuasaan militer mereka demi kehidupan yang tenang. Ia pun menjanjikan tanah, rumah, wanita, dan harta berlimpah apabila mereka bersedia menyerahkan komando atas pasukan mereka. Keesokan paginya, dalam rapat Taizu menyetujui pengunduran diri mereka dengan upah yang sangat besar. Sejak itu kekuasaan militer, keuangan, eksekutif, dan kehakiman ada di tangan kaisar. Dengan lihai ia telah memanfaatkan kelemahan dasar manusia dan memenangkan para bawahannya. Demikianlah ia telah menghilangkan akar penyebab kudeta militer yang tiada habis-habisnya pada periode Lima Dinasti dan Sepuluh Negara.


Akhir hayat
Pada tahun 976, Kaisar Taizu sedang dalam perjalanan ke utara untuk ekspedisi penaklukan suku Qidan. Malam harinya ia minum-minum bersama adiknya, Zhao Guangyi, di kemahnya, namun keesokan paginya ia ditemukan sudah tidak bernafas lagi. Walaupun Taizu memiliki empat putra yang masih hidup, namun Zhao Guangyi lah menggantikannya naik tahta sebagai Kaisar Song Taizong (宋太宗). Keputusan ini diambil dengan pertimbangan saat itu putra-putra Taizu masih kecil dan pengalaman-pengalaman terdahulu membuktikan bahwa kaisar bocah rentan dikudeta atau dimanfaatkan orang-orang ambisius sebagai boneka, selain itu Dinasti Song saat itu baru berdiri sehingga masih belum sepenuhnya stabil. Ada sebuah legenda yang mengatakan bahwa Zhao Guangyi lah yang membunuh kakaknya dan membujuk ibunya untuk memilihnya sebagai kaisar berikutnya.


Warisan
Kaisar Taizu adalah seorang ahli ilmu bela diri, ia menciptakan jurusnya sendiri yang merupakan pengembangan dari kungfu Shaolin, yaitu Chang Quan (长拳, secara harafiah berarti Tinju Panjang) yang juga dikenal dengan nama Taizu Quan (太祖拳). Jurus ini menitikberatkan pada gerakan yang lincah, cepat, dan kuat. Jurus ini menjadi dasar dari wushu modern aliran Chang Quan. Selain itu, Kaisar Taizu juga dianggap sebagai penemu triple-stick. Di kemudian hari, senjata ini dikembangkan oleh maestro kungfu abad XX, Bruce Lee, menjadi double-stick yang penggunaannya lebih efisien dan mudah dibawa-bawa.

Li Jing, jenderal brilian dari Dinasti Tang

Li Jing (Hanzi: 李靖, 571-649) adalah seorang jenderal Tiongkok pada masa awal Dinasti Tang. Jasanya antara lain menaklukkan suku-suku Turki di perbatasan utara dan pemberontakan separatis pada awal dinasti itu. Ia juga menulis beberapa buku mengenai kemiliteran, salah satunya, Tao Perang, kitab ilmu perang pertama dalam sejarah yang membahas mengenai standar moral prajurit dan kode etik dalam berperang. Kehebatannya begitu luar biasa sehingga seringkali tercampur dengan mitologi dan legenda.

Kehidupan awal
Li Jing dilahirkan di Sanyuan, Yongzhou (sekarang Kabupaten Sanyuan, Provinsi Shaanxi) dalam keluarga yang mempunyai tradisi militer. Anggota keluarganya selama beberapa generasi adalah tokoh-tokoh militer terkemuka yang mengabdi pada Dinasti Sui. Pada masa mudanya Li menjabat sebagai perwira yang menjaga sebuah prefektur kecil. Ia seorang yang ahli dalam strategi perang sehingga bakatnya dipuji oleh beberapa pejabat tinggi Sui seperti perdana menteri Yang Su dan Niu Hong.

Ketika Dinasti Sui telah diambang keruntuhan karena pemerintahan Kaisar Yang dari Sui yang tiran, Li Jing telah mencium rencana pemberontakan oleh Li Yuan yang menjaga Taiyuan (sekarang bagian tenggara kota Taiyuan, Shaanxi). Maka ia menyamar sebagai narapidana dan menyusup ke dalam iring-iringan narapidana yang akan dibawa ke ibukota untuk dieksekusi. Rencananya begitu tiba di sana, ia akan membeberkan rencana pemberontakan itu pada para menteri kekaisaran. Namun kedoknya terbongkar di tengah jalan dan ia ditangkap oleh rakyat yang mendukung Li Yuan.

Li Yuan memerintahkannya untuk dihukum mati. Ketika akan dieksekusi, ia berkata dengan penuh keberanian, “Saat ini negara sedang kacau, aku sebagai hamba Dinasti Sui hanya menjalankan tugas membongkar rencana para pengkhianat. Apakah aku salah mengabdi pada negara ketika para pengkhianat mengotori seluruh penjuru negeri ?� Li Yuan sangat marah mendengarnya, namun putra keduanya, Li Shimin sangat terkesan dan dia menyarankan ayahnya agar tidak menghukum mati orang yang setia sepertinya sehingga ia dibebaskan. Tak lama kemudian, terdengarlah berita bahwa salah seorang pamannya yang adalah jenderal terkenal Sui tewas dengan tragis ketika menumpas pemberontak. Li pun memutuskan untuk terlibat dalam perang pasca keruntuhan Dinasti Sui. Ia direkrut oleh Li Mi, salah satu pemimpin pemberontak terkenal pada masa itu.

Tak lama kemudian ia merasa sangat kecewa terhadap Li Mi yang sering memanfaatkan rakyat jelata dan membiarkan prajuritnya merampoki mereka. Suatu malam, ia meninggalkan markas Li Mi seorang diri dan mengembara tak tentu arah. Di tengah jalan, ia kembali bertemu dengan Li Shimin yang kebetulan saat itu sedang dalam perjalanannya untuk memerangi Li Mi. Ia sangat terkesan dengan Li Shimin yang mempelakukan rakyat dengan baik sehingga ia yakin bahwa Li Shimin adalah orang yang tepat yang kelak akan membawa Tiongkok keluar dari kekacauan. Saat itu pun ia memutuskan untuk bergabung dengan Li Shimin.


Pengabdian pada Dinasti Tang
Li Yuan berhasil mempersatukan negara dan mendirikan Dinasti Tang tahun 618. Ia menjadi kaisar pertama dengan gelar Kaisar Tang Gaozu. Tahun 621, Kaisar Gaozu menugaskan Li Jing untuk memimpin ekspedisi ke selatan dalam rangka menaklukan Xiao Xi, pemimpin rezim separatis terkuat yang berusaha memisahkan diri dari Tang dan mendirikan Dinasti Liang. Li menyelesaikan tugas ini dengan baik dan memperoleh kemenangan gemilang. Ia menerapkan disiplin yang ketat terhadap pasukannya, penganiayaan terhadap rakyat dan tawanan perang dilarang. Hasilnya, sebagian besar kaum pemberontak menyerah secara baik-baik dan Xiao Xi berhasil ditangkap. Wilayah yang terbentang dari Hunan dan Hubei hingga selatan Tiongkok kini telah menjadi wilayah Tang. Atas jasanya, Li diangkat menjadi gubernur jenderal wilayah selatan.

Li Jing memiliki keyakinan bahwa golongan militer tidak seharusnya terlibat dalam politik. Karena itulah dalam pertikaian antara putra-putra Gaozu, ia menyarankan agar orang-orangnya bersikap netral, tidak memihak siapapun baik Li Shimin maupun kakaknya, putra mahkota Li Jiancheng. Klimaks dari perseteruan keluarga ini adalah Kudeta di Gerbang Xuanwu (626) dimana Li Shimin membunuh kakaknya dan memaksa ayahnya menjadikannya putra mahkota. Beberapa bulan kemudian Kaisar Gaozu turun tahta dan Li Shimin menjadi kaisar baru dengan gelar Kaisar Tang Taizong. Di bawah pemerintahan Taizong, Li Jing tetap melanjutkan pengabdiannya dan menjadi tiang negara yang menjabat berbagai posisi penting dalam militer.

Pada tahun-tahun pertama Dinasti Tang, ancaman terbesar di perbatasan utara datang dari suku-suku Turki pengembara, terutama suku Tujue Timur. Mereka sering mengacau di wilayah perbatasan bahkan hampir menyerang ibukota Chang’an ketika pasukan Tiongkok sedang sibuk menangani kaum separatis, suku Hmong, dan Korea. Li secara pribadi memimpin 3000 pasukannya untuk memerangi mereka. Dengan strategi yang brilian dan formasi tempur yang baik, ia mengalahkan Tujue Timur bahkan terus maju hingga ke Turkestan. Di bawah serangan yang gencar, lebih dari 200.000 pasukan Tujue Timur terbunuh, ditangkap atau kabur. Tahun 630, Li berhasil menaklukkan pasukan Tujue dan menanamkan pengaruh Kekaisaran Tang di wilayah mereka. Sungguh sebuah prestasi yang luar biasa, karena saat itu suku-suku pengembara Turki adalah kekuatan yang cukup menonjol di wilayah Asia Tengah sedangkan Dinasti Tang sendiri masih baru berdiri.

Kemenangannya atas Turki membuat reputasinya terkenal di seluruh negeri. Ia dikenal akan strateginya dengan pasukan kecil mampu mengalahkan pasukan yang lebih besar. Disiplin pasukannya sangat baik dan mereka tidak pernah mengganggu rakyat. Li tidak membalas perlakuan barbar pasukan Turki dengan perlakuan yang sama, sebaliknya ia memperlakukan para tawanan perang dengan manusiawi. Bahkan dalam suatu kesempatan ia pernah membagikan ransum pasukannya untuk membantu rakyat Turki yang sedang kelaparan. Dalam perang itulah ia menyusun kitab Tao Perang yang dipakainya sebagai dasar untuk menghukum orang Tionghoa maupun non-Tionghoa yang terlibat kejahatan perang. Rakyat menjulukinya sebagai jenderal sorgawi yang menitis ke dunia. Kaisar Taizong menganugerahkannya gelar Adipati Dai (代公, daigong) dan membandingkannya dengan jenderal Li Ling dari Dinasti Han, katanya, “Dulu Kaisar Wu dari Han pernah mengutus Li Ling dengan 8000 pasukan untuk menaklukkan Xiongnu, namun mereka akhirnya menyerah setelah bertempur mati-matian. Saya mengirim anda hanya dengan 3000 pasukan untuk mengalahkan Tujue Timur. Namun anda berhasil mengalahkan 200.000 pasukan mereka dan bahkan memasukkan wilayah mereka untuk kekaisaran kita, sungguh jenderal hebat yang sulit dicari tandingannya dalam sejarah.â€�

Tahun 934, Raja Duguhun, Murong Fuyun, dari wilayah barat laut Tiongkok mengacau di perbatasan. Taizong kembali menugaskan Li Jing untuk menghukum para pengacau itu. Setelah setahun berperang dan kejar-kejaran dengan pasukan Duguhun, ia berhasil mengalahkan mereka di Xinjiang. Murong Fuyun dibunuh oleh bawahannya sendiri, putranya Murong Shun menyerah pada Li. Wilayahnya pun menjadi milik kekaisaran Tang. Atas jasanya kali ini, Li mendapat gelar Adipati Wei (卫公, weigong) sehingga ia juga dikenal dengan nama Li Weigong.

Tahun 647, Kaisar Taizong memanggilnya untuk memberi masukan mengenai ekspedisi penaklukan Korea. Ia meminta pada Taizong untuk memimpin pasukannya ke Korea, namun tidak dikabulkan karena usianya yang telah lanjut. Li Jing, sang jenderal besar itu, wafat tahun 649 dalam usia 78 tahun.

Warisan
Selain menulis Tao Perang yang berisi kode-kode etik peperangan. Karya Li Jing lainnnya yang tak kalah penting adalah Dialog Tang Taizong-Li Weigong (唐太宗李卫公问对, Tang Taizong Li Weigong Wendui) yang berisi dialong mengenai strategi militer antara dia dan Kaisar Taizong. Kitab ini dimasukkan sebagai salah satu dari Tujuh Karya Militer Klasik (武经七书, Wujing qishu). Karya lainnya adalah Seni Perang Li Weigong (李卫公兵法, Li Weigong Bingfa) dan Enam Cermin Tentara (李靖六军镜, Li Jing liujunjing).

Su Dingfang, penakluk suku barbar & Korea

Su Dingfang (Hanzi: 苏定方, 591-667) atau Su Lie (苏烈), Adipati Zhuang dari Xing (邢庄公), adalah seorang jenderal pada awal Dinasti Tang yang terkenal karena keberhasilannya menaklukan suku Tujue Barat (Turki) tahun 657. Kemenangannya atas Tujue ini memperluas wilayah barat kekaisaran Tang. Kemenangan lain yang membuat namanya semakin termashyur adalah penaklukan Kerajaan Baekje, Korea tahun 660.

Kehidupan awal
Su Dingfang dilahirkan di Wuyi (sekarang Hengshui, Hebei) pada tahun 591, masa pemerintahan Kaisar Wen dari Sui. Pada masa pemerintahan Kaisar Yang dari Sui (putra Kaisar Wen) pemberontakan petani meletus dimana-mana menentang gaya pemerintahan sang kaisar yang tiran. Ayahnya, Su Yong memimpin milisi lokal melawan kaum pemberontak. Su yang ketika itu masih remaja sering berjuang dengan ayahnya di garis depan pertempuran. Setelah kematian ayahnya, Su mengambil alih kepemimpinan milisi itu dan meneruskan perjuangan ayahnya melawan pemberontak. Menurut Kitab Tang ia berhasil membunuh jenderal pemberontak Zhang Jincheng (walau ada kontradiksi mengenai hal ini, karena menurut Kitab Sui, Zhang dibunuh oleh Jenderal Yang Yichen dari Sui, sementara Zizhi Tongjian karya Sima Guang, sejarawan Dinasti Song, mencatat bahwa pembunuh Zhang adalah Jenderal Yang Shanhui dari Sui) dan mengalahkan seorang jenderal lainnya, Yang Gongqing.

Belakangan Su mengabdi pada seorang pemimpin pemberontak bernama Dou Jiande, Pangeran Xia. Salah seorang jenderal kepercayaan Dou, Gao Yaxian terkesan akan bakatnya dan memperlakukannya seperti anak sendiri. Pada tahun 621, Dou kalah dalam Pertempuran Hulao dan dihukum mati oleh Li Shimin, Pangeran Qin (putra Kaisar Tang Gaozu), wilayahnya diambil alih oleh pemerintah Tang, namun Gao dan beberapa jenderal lainnya berontak terhadap pemerintah Tang akhir tahun itu, mereka mendukung Liu Heita, Pangeran Handong, seorang jenderal kesayangan Dou, sebagai pemimpin mereka. Su ikut dalam pemberontakan yang akhirnya berujung kegagalan ini. Tahun 622, Gao Yaxian gugur dalam pertempuran dan tahun berikutnya Liu Heita dikalahkan oleh Li Jiancheng, putra mahkota Tang. Setelah kekalahan ini, Su kembali ke kampung halamannya.

Tak lama kemudian ia bergabung kembali dengan militer Tang. Tahun 626, ketika Li Shimin naik tahta sebagai Kaisar Tang Taizong menggantikan ayahnya, Su telah menjadi perwira di bawah Li Jing, seorang jenderal Tang yang terkenal. Su turut serta dalam kampanye militer Li Jing melawan Tujue Timur sekitar tahun 629-630, ia menjadi komandan garis depan dalam pertempuran yang menentukan dimana Li Jing mengalahkan Jiali Khan, Ashina Duobi dan membunuh istrinya, Putri Yicheng dari Sui. Ketika Li Jing kembali ke ibukota membawa kemenangan, Su dipromosikan sebagai perwira kelas menengah.


Pengabdian pertama pada Kaisar Gaozong
Tidak banyak yang diketahui mengenai karir militer Su selama pemerintahan Kaisar Taizong. Namanya mulai menonjol sejak tahun 655, pada masa pemerintahan putra Taizong, Kaisar Tang Gaozong. Tahun itu ia bekerja di bawah Jenderal Cheng Minzhen dalam sebuah kampanye militer melawan Kerajaan Goguryeo, Korea.

Pada akhir tahun itu, Kaisar Gaozong memerintahkan Jenderal Cheng Zhijie untuk memimpin pasukan melawan Shaboluo Khan, Ashina Helu dari Tujue Barat, vassal Tang yang memberontak. Dalam kampanye militer itu, Su bekerja di bawah Cheng. Awal kampanye itu meraih sejumlah kemenangan atas suku-suku bawahan Tujue Barat seperti Gexianlu, Chumukun, Chuyue, dan Tuqishi. Sekitar awal tahun 657, pasukan Cheng berhadapan dengan pasukan inti Tujue Barat dan mereka kembali meraih kemenangan dalam babak awal pertempuran dimana Su memimpin di garis depan. Namun segalanya menjadi kacau karena Wang Wendu, seorang deputi Cheng yang iri padanya dan bermaksud mencari tanda jasa bagi diri sendiri, bertindak di luar koordinasi. Su sebenarnya telah menyarankan agar pasukan sesegera mungkin menyerbu sisa pasukan Tujue, namun Wang malah bergerak sendiri dengan memerintahkan pasukan harus disusun dalam posisi segi empat dengan persediaan ransum di tengah. Bahkan Wang bertindak lebih jauh dengan memalsukan titah kaisar dengan menyatakan komando tertinggi telah dialihkan dari Cheng padanya.

Su memperingatkan atasannya bahwa keengganan Wang untuk sesegera mungkin menyerbu Tujue akan berakibat turunnya semangat tempur dan menandaskan bahwa perintah itu adalah palsu, ia juga mendesak agar Cheng menahan Wang dan menyerbu Tuju, namun sayangnya Cheng menolak semua usulan ini. Ketika beberapa orang Tujue datang ke kemah pasukan Tang untuk menyerah, Wang yang tergiur dengan harta mereka membantai mereka dan merampas harta itu tanpa menghiraukan keberatan dari Su. Su dengan marah menolak ketika Wang menawarkan sebagian harta rampasan itu padanya. Akhirnya dengan alasan yang kurang jelas, pasukan Tang mundur dan Wang didakwa atas kelancangannya memalsukan titah kaisar, seluruh gelar dan pangkatnya dicabut, statusnya diturunkan menjadi rakyat biasa.

kisaku
16th January 2008, 00:08
Kampanye militer melawan Tujue Barat
Musim semi tahun 657, Kaisar Gaozong sekali lagi memerintahkan kampanye militer melawan Tujue Barat. Kali ini Su lah yang menjadi komandan tertingginya, ia didampingi oleh Jenderal Ren Yaxiang dan Xiao Siye, juga diperkuat oleh sekutu Tang, Huige (sekarang Uyghur), dan kepala suku Tujue Barat yang memihak Tang, Ashina Mishe dan Ashina Buzhen. Kedua kepala suku itu mengambil rute dari selatan sedangkan Su dan yang lainnya dari utara. Mula-mula Su menyerang suku Chumukun dan mengalahkannya. Kemudian ia menghadapi pasukan Ashina Helu yang berkekuatan sekitar 100.000 pasukan dengan kurang dari 20.000 pasukan di pihaknya. Ashina Helu yang merasa yakin akan sanggup menghancurkan pasukan Su yang lebih kecil itu dengan mudah memerintahkan penyerbuan besar-besaran namun ia tidak sanggup menembus formasi pasukan Su yang diperlengkapi tombak-tombak panjang. Su membalas serangan ini dengan mengerahkan pasukan kavalerinya dan berhasil mengalahkan Ashina Helu serta membunuh puluhan ribu musuh. Hari berikutnya, pasukan Su terus maju, para pemimpin dari lima suku bawahan Tujue termasuk Jenderal Huluwu menyerah pada Su. Ashina Helu kabur bersama seorang jenderalnya, Qulu. Pemimpin dari lima suku lainnya menyerah pada Ashina Buzhen. Dengan demikian suku-suku bawahan Tujue telah menyerah semua pada pemerintah Tang.

Ketika pasukan Su terus maju mengejar Ashina Helu, mereka terhadang oleh badai salju. Para bawahannya menyarankan untuk beristirahat sebentar sambil menunggu badai reda. Namun Su malah bertindak sebaliknya, ia menekankan bahwa bila mereka terus mengejar tanpa menghiraukan badai salju pasti musuh akan terkejut karena tidak menduga hal ini. Maka ia bergabung dengan pasukan Ashina Mishe dan Ashina Buzhen, mereka melancarkan serangan dadakan terhadap Ashina Helu yang sedang mengkonsolidasi pasukannya. Kembali Ashina Helu kalah dan kehilangan puluhan ribu orangnya, namun sekali lagi ia berhasil lolos.

Ashina Helu melarikan diri ke Negara Shi (sekarang Tashkent, Uzbekistan), sebuah wilayah protektorat Tujue. Namun raja Shi yang takut pada pengaruh Tang dan tidak ingin mengambil risiko wilayahnya diserbu mereka meringkus Ashina Helu dan menyerahkannya pada pasukan Tang. Sejak itulah bangsa Tujue tidak lagi independen, mereka telah menjadi bawahan Kekaisaran Tang. Ashina Helu yang digiring ke ibukota Chang’an (sekarang Xi'an, Shaanxi) mendapat pengampunan dari kaisar dan Su atas prestasinya dipromosikan sebagai jenderal tertinggi dan gelar kebangsawanan Adipati Xing, putra Su, Su Qingjie mendapat gelar Adipati Wuyi.


Kampanye militer melawan Sijie
Tahun 659, Duman, kepala suku Sijie, salah satu cabang suku Tujue memberontak terhadap pemerintah Tang. Beberapa cabang suku lainnya seperti Shule, Zhujupo, dan Yebantuo (sekarang merupakan suku-suku yang berdiam di Kashgar, Xinjiang) yang ikut memberontak bersamanya mengalahkan Yutian (sekarang Hotan, Xinjiang), salah satu suku lainnya yang pro-Tang. Musim dingin tahun itu juga, kaisar mengutus Su Dingfang untuk memimpin ekspedisi penghukuman atas Duman. Ketika kedua pihak berhadapan, Su memilih 10.000 pasukan infanteri dan 3000 pasukan kavaleri untuk melakukan serangan dadakan terhadap Duman. Ketika ia dan pasukannya tiba di kemah utama musuh, Duman sangat terkejut dan berhasil dikalahkan dengan mudah. Duman sendiri kabur dan berlindung di sebuah kota. Pasukan Su mengepung rapat kota itu hingga akhirnya Duman menyerah.

Musim gugur tahun 660, Duman digiring menuju ibukota timur, Luoyang, untuk dihadapkan pada Kaisar Gaozong yang saat itu berada disana. Beberapa pejabat Tang mendesak agar Duman dihukum mati, namun Su membelanya demi memegang janji untuk menjamin keselamatannya ketika ia hendak menyerah. Maka Kaisar Gaozong menetapkan bahwa walaupun secara hukum Duman pantas dihukum mati, namun untuk menghormati Su yang berpegang pada janjinya, ia memberi pengampunan pada Duman.


Kampanye militer melawan Baekje
Setelah sukses memandamkan pemberontakan suku Sijie, sebuah tugas besar lainnya telah menanti Su. Pada musim semi tahun 660, Kerajaan Silla, sekutu Tang di Korea, meminta bantuan untuk menghadapi serbuan dari Kerajaan Baekje. Kaisar Gaozong mengangkat Su sebagai komandan tertinggi pasukan sekutu Tiongkok-Korea dengan membawahi 100.000 pasukan menuju Korea untuk bergabung dengan pasukan Silla yang dipimpin Raja Muyeol dari Silla. Musim panas tahun itu Su bersama pasukannya bertolak dari Chengshan (sekarang Weihai, Shandong) menyeberangi Laut Kuning menuju ke Kerajaan Baekje. Pasukan Baekje gagal menghalau pendaratan pasukan besar dari Tiongkok itu. Begitu tiba, pasukan Tang langsung menyerbu ibukota Baekje, Sabi (sekarang Buyeo, Chungcheongnam-do), dan mengepungnya. Raja Uija dari Baekje kabur ke utara bersama putra mahkota, Buyeo Yung, sementara putra keduanya, Buyeo Tae, malah mengangkat diri sebagai raja.

Putra Buyeo Yung, Buyeo Munsa, membujuk ayahnya untuk menyerah saja pada Tang, dengan alasan sekalipun mereka berhasil mengusir pasukan Tang, Buyeo Tae, yang kini menjadi raja, tetap akan membunuh mereka. Penyerahan diri Raja Uija, Pangeran Yung, dan putranya, menyebabkan banyak orang turut menyerah pada Tang sehingga tak lama kemudian Buyeo Tae pun terpaksa menyerah. Wilayah Baekje dianeksasi oleh Kekaisaran Tang. Pada musim dingin 660, Su mempersembahkan para tawanan perang pada kaisar di Luoyang, Raja Uija dan para tawanan lain mendapat pengampuan umum dari Kaisar Gaozong. Namun, menurut catatan sejarah, setelah kemenangan itu, pasukan Su yang ditempatkan di Baekje mulai berlaku sewenang-wenang dan menindas rakyat. Tercatat bahwa dua orang jenderal Baekje yaitu Heukchi Sangji dan Sataek Sangyeo pernah mencegah penjarahan dan pembantaian yang dilakukan oleh pasukan Su. Penindasan ini membangkitkan kemarahan rakyat, mereka memberontak di bawah pimpinan Buyeo Pung, salah satu putra Raja Uija yang baru kembali dari Jepang dan berusaha memulihkan kerajaannya. Namun pemberontakan ini berhasil ditumpas tahun 663.


Tahun-tahun terakhir
Musim dingin 660, kaisar mengutus Su bersama Qibi Heli, Liu Boying, dan Cheng Minzhen untuk menyerang Kerajaan Goguryeo, sekutu Baekje. Musim gugur tahun berikutnya, Su mengepung ibukota Goguryeo, Pyongyang. Namun hingga musim dingin tahun 662, pasukannya belum berhasil merebut kota itu, bahkan salah satu jenderal Tang, Pang Xiaotai gugur dalam pertempuran. Badai salju yang ganas akhirnya memaksanya untuk mengundurkan diri.

Musim panas tahun 663, Tufan (suku Tibet) menyerang Tuyuhun (sekarang Gansu dan Qinghai), salah satu vassal Tang sehingga kaisar mengutus Su untuk membantu Tuyuhun. Namun tidak ada catatan sejarah yang rinci mengenai ekspedisi ini, tidak diketahui apakah Tufan menang atas Tuyuhun ataupun kalah menangnya Su terhadap Tufan. Su wafat tahun 667. Liu Xu, penyunting utama Kitab Tang, yakin bahwa tidak ada prestasi militer Su yang menonjol pada tahun-tahun terakhir kehidupannya sehingga tidak tercatat secara rinci dalam sejarah, Liu berkomentar, “Adipati Xing menggunakan strateginya yang hebat untuk menaklukan pemberontak, ia melakukannya dengan baik dari awal hingga akhir, namun sayang tidak banyak yang diketahui tentang kampanye militernya melawan Shule karena tidak tercatat dengan baik dalam sejarah.”

Sanada Yukimura, pahlawan legendaris jaman Sengoku

Sanada Yukimura (真田 幸村, Sanada Yukimura?) (? 1567 - 3 Juni 1615) adalah samurai Jepang, anak kedua dari daimyo Sanada Masayuki pada masa perang sipil/ periode Sengoku yang mengabdi pada klan Takeda. Nama lainnya adalah Sanada Nobushige (真田 信繁, Sanada Nobushige?) mengikuti nama adik Takeda Shingen, Takeda Nobushige yang adalah seorang prajurit yang berani dan terhormat.

Tahun 1582, aliansi Oda Nobunaga dan Tokugawa Ieyasu menghancurkan klan Takeda sehingga klan Sanada pun menyerah pada Oda Nobunaga. Namun setelah Nobunaga terbunuh dalam Insiden Honouji, klan Sanada menjadi independen tanpa tuan. Mereka berturut-turut mengabdi pada klan-klan kuat pada masa itu seperti Uesugi, Hojo, dan Tokugawa. Tahun 1585, Yukimura dikirim sebagai sandera untuk klan Uesugi oleh ayahnya, dia tinggal disana dibawah pengawasan Suda Chikamitsu. Setelah kembali, dia menikahi salah seorang anak perempuan Otani Yo****sugu.

Tahun 1600, Pertempuran Sekigahara meletus antara pasukan barat yang dipimpin Ishida Mitsunari, wali klan Toyotomi dan pasukan timur yang dipimpin Tokugawa Ieyasu. Dalam pertempuran ini Yukimura dan ayahnya, Masayuki berpihak pada pasukan barat, namun kakaknya, Sanada Nobuyuki berpihak pada Tokugawa. Yukimura meraih popularitasnya dalam pertahanan Kastil Ueda dimana dia menahan 40.000 tentara yang dipimpin Tokugawa Hidetada hanya dengan 2000 orang. Tokugawa Ieyasu hampir menghukum mati seluruh klan Sanada karena perlawanan mereka yang keras itu, namun karena memandang Nobuyuki yang berpihak padanya, dia hanya mengasingkan Yukimura dan Masayuki ke Kudoyama, provinsi Kii. Disana, Masayuki meninggal, desas-desus mengatakan dia dibunuh atas perintah Tokugawa Ieyasu.

Duabelas tahun kemudian, hubungan antara klan Tokugawa dan Toyotomi mulai memanas kembali, Ieyasu merasa Toyotomi Hideyori yang telah menginjak usia dewasa menjadi ancaman baginya. Klan Toyotomi sendiri juga mulai menghimpun kekuatan kembali untuk membalas kekalahan di Sekigahara, mereka merekrut para ronin/ samurai tak bertuan untuk menghadapi Tokugawa. Tahun 1614, Yukimura meloloskan diri dari Kii dan mengabdikan diri pada Toyotomi. Musim dingin tahun itu, Kastil Osaka kediaman Toyotomi dikepung. Yukimura memperkuat pertahanan di sebelah selatan kastil yang lemah, dari sini dia bertempur dengan pasukan Tokugawa dengan menggunakan senjata api. Pasukannya yang berjumlah 7000 orang bertahan dengan gigih menahan 10.000 pasukan Tokugawa selama sebulan. Menghadapi situasi ini, Tokugawa menawarkan negosiasi damai. Hideyori menerima negosiasi ini sehingga memberi kesempatan bagi Tokugawa untuk menghimpun kekuatan untuk mengadakan penyerangan lagi tahun berikutnya.

Mei 1915, dalam Pertempuran Musim Panas Osaka, Yukimura tidak lagi bertempur secara defensif, kali ini dia melancarkan penyerbuan berskala besar langsung ke posisi penting pasukan musuh. Serbuannya begitu dahsyat sehingga beberapa kali berhasil menerobos kemah utama Tokugawa. Bahkan konon kabarnya Tokugawa sendiri hampir melakukan bunuh diri karenanya, namun cerita ini sepertinya hanya dramatisasi saja. Yukimura menerobos kemah utama sebanyak tiga kali dan hampir mendekati Tokugawa dalam jarak beberapa meter saja. Dalam kepungan pasukan Tokugawa dia bertempur dengan gagah berani. Namun dia harus tumbang karena jumlah pasukan musuh yang demikian banyaknya, tubuhnya sudah lelah dan penuh luka. Dalam kondisi demikian, dia membuka helmnya dan berseru “Aku Sanada Yukimura, seorang musuh yang sepadan dengan kalian, namun aku sudah terlalu lelah untuk bertempur !�. Seorang samurai Tokugawa, Nishio Nizaemon menerjang ke arahnya dan mengakhiri hidupnya.


Makam Sanada Yukimura di Kuil Yasui, OsakaYukimura adalah seorang jago pedang, ahli strategi dan jendral berbakat yang disegani kawan maupun lawan. Tokugawa sendiri mengaguminya dan memendam rasa takut padanya hingga ajalnya. Kematiannya yang heroik membuatnya dianggap sebagai prajurit terhebat dan tokoh paling populer dalam periode Sengoku. Dia seringkali dijuluki pahlawan yang muncul setiap seratus tahun sekali. Legenda mengatakan dia juga anggota salah satu perkumpulan ninja dan mempunyai sepuluh bawahan yang dikenal sebagai Sepuluh Pendekar Sanada yang adalah kaum ninja, mereka adalah :

-Sarutobi Sasuke
-Kirigakure Saizo
-Miyoshi Sekai
-Miyoshi Isa
-Anayama Kosuke
-Unno Rokuro
-Kakei Juzo
-Nezu Jinpachi
-Mochizuki Rokuro
-Yuri Kamanosuke

Masa Transisi Sui-Tang

Masa transisi Sui-Tang (Hanzi: 隋末唐初, Sui mo Tang chu) adalah masa peralihan dari Dinasti Sui ke Dinasti Tang yang penuh konflik dan pertumpahan darah. Pada masa itu, Tiongkok terpecah-pecah atas beberapa negara independen yang berumur pendek, negara-negara ini dipimpin oleh para mantan pejabat dan pemimpin militer Sui dan para pemimpin pemberontakan petani. Salah satu mantan jenderal Sui bernama Li Yuan akhirnya berhasil mempersatukan kembali Tiongkok dan mendirikan Dinasti Tang, ia menjadi kaisar pertamanya dengan gelar Kaisar Tang Gaozu. Periode ini berawal dari tahun 613 ketika Kaisar Yang dari Sui melakukan kampanye militer melawan Kerajaan Goguryeo, Korea. Perang yang gagal ini berujung tragedi bagi Tiongkok, banyak pasukan yang dikirim ke Korea tidak pernah kembali yang selanjutnya berakibat desersi di tubuh militer dan pemberontakan dari rakyat yang direkrut paksa untuk dikirim dalam kampanye berikutnya. Periode ini baru berakhir tahun 628 dengan dikalahkannya Kerajaan Liang, rezim separatis terakhir pimpinan Liang Shidu oleh Kaisar Tang Taizong (Li Shimin), putra Li Yuan dan kaisar kedua Tang.

Invasi Tiongkok atas Goguryeo dan awal pemberontakan
Hingga tahun 611, Tiongkok di bawah Dinasti Sui telah menikmati masa damai dan makmur sejak Kaisar Wen dari Sui mengalahkan Dinasti Chen (598) dan mempersatukan negara. Selama beberapa dekade tidak ada perang besar selain konflik perbatasan dengan Kerajaan Goguryeo dan suku Tujue Timur (Turki) yang menjadi negara protektorat Sui sejak kepemimpinan Qimin Khan, Ashina Rangan, serta sebuah konflik internal antara Yang Guang (yang kelak menjadi Kaisar Yang dari Sui tahun 604) dengan Yang Liang, Pangeran Han. Pada tahun 610, Raja Yeong-yang dari Goguryeo (Gao Yuan) menolak memberi penghormatan pada Kaisar Yang, hal ini membuat Kaisar Yang murka dan menyusun rencana untuk menyerang Goguryeo. Baik kaisar maupun rakyat Tiongkok yakin kampanye militer ini akan berjalan mulus.

Namun perang itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sumber daya manusia dan kebutuhan perang, seperti makanan, bahan-bahan untuk membangun armada dan alat-alat perang dikirim ke basis operasi di pos militer Zhuo (sekarang Beijing). Hal ini menyebabkan kekacauan peredaran hasil pertanian karena sebagian besar dipakai untuk berperang, kelaparan melanda berbagai wilayah terutama di bagian utara Tiongkok. Mereka yang dipilih untuk mengirim persediaan logistik ke pos militer Zhuo banyak yang meninggal dalam perjalanan. Pada tahun 611, orang-orang yang direkrut paksa itu mulai berani memberontak, pemberontakan petani meletus dibawah pimpinan Wang Bo dan Liu Badao. Saat itu kaisar belum menganggap serius pemberontakan-pemberontakan itu, ia hanya mengerahkan milisi lokal bentukan pemerintah, namun mereka tidak becus menangani pemberontakan yang dari hari ke hari semakin bertumbuh.

Tanpa mempedulikan penderitaan rakyat, Kaisar tetap mengirimkan ekspedisi militer pertamanya ke Goguryeo tahun 612 dengan pasukan berjumlah sekitar satu juta orang. Pasukan besar itu menyeberangi Sungai Liao dan memasuki perbatasan Goguryeo. Kaisar sendiri secara pribadi memimpin pasukannya mengepung kota Liaodong (sekarang Liaoyang, Liaoning), sementara itu ia mengirimkan Jenderal Yuwen Shu dan Yu Zhongwen memimpin sisa pasukannya memasuki wilayah Goguryeo menuju ke ibukotanya, Pyongyang. Disana mereka bergabung dengan armada yang dipimpin oleh Jenderal Lai Hu’er. Namun Kaisar Yang tidak pernah bisa merebut Liaodong, Yuwen dan Yu sebelum mencapai Pyongyang sudah dihadang oleh Jenderal Eulji Mundeok dari Goguryeo, mereka kalah dalam Pertempuran Salsu hingga terpaksa harus mundur dengan meninggalkan banyak korban di pihaknya. Musim gugur tahun itu, kaisar terpaksa membatalkan kampanye militer itu dan mundur. Dalam perang ini Tiongkok berhasil memperoleh sedikit daerah namun dengan korban jiwa sebesar kurang lebih 300.000 orang.

Tahun 613, Kaisar Yang kembali mengirimkan kampanye militer kedua ke Korea, padahal pemberontakan petani di dalam negeri semakin banyak dan serius. Sekali lagi ia memimpin pasukannya ke Liaodong untuk mengepung kota itu kedua kalinya, sementara itu Yuwen Shu dan Yang Yichen diperintahkan untuk menyerbu Pyongyang. Namun ketika kaisar sedang di Liaodong, Jenderal Yang Xuan'gan, yang bertugas mengatur lalu-lintas perbekalan di dekat ibukota timur, Luoyang, memberontak, ia memimpin pasukannya menyerbu Luoyang. Mendengar kabar ini, kaisar terpaksa menarik mundur pasukannya dari Liaodong. Yuwen Shu dan Qutu Tong diperintahkan untuk menyelamatkan Luoyang. Keduanya bergabung dengan Fan Zigai dan Wei Wensheng yang masing-masing adalah komandan tertinggi penjaga kota Luoyang dan ibukota barat Chang’an (sekarang Xi'an, Shaanxi). Pemberontakan ini pada akhirnya berhasil ditumpas, Yang bunuh diri dalam pelariannya, keluarga dan pengikutnya dihukum mati dengan kejam, namun pemberontakan demi pemberontakan terus meletus di berbagai daerah menentang kesewenang-wenangan sang kaisar.

Namun demikian, Kaisar Yang malah kembali mengirim pasukan ke Korea untuk ketiga kalinya tahun 614. Ketika Jenderal Lai Hu’er tiba di Sungai Liao, Goguryeo menyerah, sebagai tanda penyerahan itu mereka menyerahkan Husi Zheng, salah seorang pengikut Yang yang kabur ke Goguryeo. Kaisar pun membatalkan kampanye militernya, namun ketika ia kembali menuntut penghormatan pada dirinya, Raja Yeong-yang mengabaikan tuntutan itu sehingga Kaisar Yang berencana untuk mengirim ekspedisi ke-empat, namun hal ini tidak pernah terlaksana. Pada musim gugur 615, ketika kaisar mengunjungi Yanmen (sekarang Xinzhou, Shanxi), putra Qimin Khan yang telah menggantikannya, Shibi Khan, Ashina Duojishi, yang tidak senang dengan tindakan Kaisar Yang yang melemahkan sukunya dengan taktik adu domba, melakukan serangan dadakan terhadap Yanmen dan mengepung kota itu. Pasukan Sui yang sebagian besar masih setia pada kaisar segera menuju ke Yanmen untuk membebaskan kota itu. Kaisar menjanjikan hadiah besar bagi mereka yang menolongnya. Namun setelah mereka berhasil menghalau musuh, kaisar malah mengingkari janjinya sehingga menimbulkan kekesalan di kalangan militer.


Pecahnya Kekaisaran Sui
Karena semakin meluasnya pemberontakan petani di wilayah utara Tiongkok, Kaisar Yang tidak kembali ke Chang’an maupun Luoyang. Bersama keluarganya ia mengungsi ke Jiangdu (sekarang Yangzhou, Jiangsu) pada musim gugur 616. Dengan mengungsinya kaisar dari Luoyang ke Jiangdu, kaum pemberontak di sekitarnya berkoalisi di bawah pimpinan Li Mi, mantan ahli strategi Yang Xuan’gan, yang dianggap calon kaisar masa depan oleh sebagian besar pemimpin pemberontak utara. Namun Li, tidak pernah berhasil mencaplok Luoyang ataupun mengklaim gelar kekaisaran bagi dirinya.

Sementara itu, Jenderal Yang Yichen sedang berjuang mati-matian memadamkan pemberontakan di utara Sungai Kuning dan ia berhasil meraih banyak kemenangan gemilang. Namun sayangnya, Kaisar Yang dan perdana menterinya, Yu Shiji malah iri dengan prestasi dan jasa-jasa Yang. Sehingga Yang dipanggil pulang dengan dalih untuk menerima promosi, namun yang didapat adalah penonaktifan dirinya. Yang meninggal tak lama kemudian dalam kesedihan. Dengan tidak adanya jenderal yang mampu, aktivitas pemberontak di utara Sungai Kuning semakin merajarela dan tak terkendali, pemimpin terkuat di wilayah itu adalah Dou Jiande.

Hingga tahun 617, sejumlah pemimpin pemberontak baik pemberontak petani maupun mantan jenderal Sui, telah menguasai wilayah yang cukup signifikan, antara lain:

-Du Fuwei, pemberontak petani, menguasai wilayah selatan Anhui
-Gao Kaidao, pemberontak petani, menguasai hampir seluruh wilayah utara Hebei
-Liang Shidu, pemberontak petani, menguasai wilayah tengah Mongolia Dalam dan mengangkat dirinya sebagai Kaisar Liang
-Li Gui, mantan pejabat Sui, menguasai wilayah tengah dan barat Gansu dan mengangkat diri sebagai Pangeran Liang.
-Li Yuan, mantan pejabat Sui dan sepupu kaisar, menguasai wilayah tengah Shanxi dan belakangan mengangkat cucu kaisar Yang You, Pangeran Dai, sebagai kaisar di Chang’an.
-Lin Shihong, pemberontak petani, menguasai Jiangxi dan Guangdong, serta mengangkat diri sebagai Kaisar Chu.
-Liu Wuzhou, pemberontak petani, menguasai wilayah utara Shanxi dan mengangkat diri sebagai Dingyang Khan.
-Luo Yi, mantan jenderal Sui, menguasai wilayah Beijing.
-Xiao Xi, mantan pejabat Sui dan cucu Kaisar Xuan dari Liang Barat, menguasai Hubei, Hunan, dan Guangxi, mengangkat diri sebagai Kaisar Liang.
-Xue Ju, pemberontak petani, menguasai wilayah timur Gansu dan barat Shaanxi, mengangkat diri sebagai Pangeran Penakluk Qin Barat.
-Zhu Can, mantan pejabat Sui, mengacau bersama pasukannya di wilayah selatan Henan dan tenggara Shaanxi, mengangkat diri sebagai Pangeran Jialuolou dan kemudian Kaisar Chu.
Beberapa pemimpin pemberontak tersebut, termasuk Li Yuan, Liu Wuzhou, Gao Kaidao, Liang Shidu, dan Dou Jiande pernah menyatakan menyerah dan menerima bantuan militer dari Tujue Timur. Tahun 617, Li Yuan mencaplok Chang’an dan mengangkat cucu kaisar, Yang You sebagai Kaisar Gong dan menjadikan Kaisar Yang sebagai mantan kaisar (太上皇,Taishang Huang), sementara Li sendiri menjadi wali dengan gelar Pangeran Tang. Deklarasi ini tidak diakui oleh sebagian besar wilayah Sui yang masih menganggap Kaisar Yang sebagai kaisar yang sah.

Kematian Kaisar Yang, runtuhnya Sui dan berdirinya Tang
Kaisar Yang merasa dirinya aman-aman saja dibawah perlindungan pasukan elit Xiaoguo di Jiangdu, padahal keadaan negara saat itu sudah semakin gawat. Ia tidak terlalu peduli untuk menangani pemberontakan dan hanya mengirim Jenderal Wang Shichong ke Luoyang untuk mempertahankan kota itu dari serbuan pasukan Li Mi. Kaisar bahkan tidak berniat untuk kembali ke utara dan bermaksud memindahkan ibukota ke Danyang (sekarang Nanjing, Jiangsu), di wilayah selatan Sungai Yangtze. Namun anggota pasukan Xiaoguo yang sebagian besar berasal dari utara dan mengkhawatirkan keluarga mereka disana, mulai melakukan desersi, mereka yang tertangkap dikenai hukuman berat. Keresahan melanda tubuh pasukan elit itu sehingga para perwiranya berkomplot untuk melakukan kudeta, mereka mendukung Yuwen Huaji, Adipati Xu (putra Yuwen Shu) sebagai pemimpin kudeta. Musim semi 618, mereka melaksanakan rencana itu dan membunuh Kaisar Yang. Kemudian Yuwen mengangkat keponakan Kaisar Yang, Yang Hao, Pangeran Qin sebagai kaisar boneka, dan ia sendiri sebagai walinya. Ia lalu bertolak dari Jiangdu ke utara bersama pasukan Xiaoguo untuk memerangi pemberontak.

Kabar kematian kaisar segera menyebar ke seantero wilayah Tiongkok. Di Chang’an, Li Yuan meresponnya dengan menuntut Kaisar Gong menyerahkan tahta padanya, ia mendirikan dinasti baru, Dinasti Tang, dengan dirinya sebagai kaisar pertama. Sementara di Luoyang, tujuh orang pejabat terkemuka mengangkat cucu lain Kaisar Yang, Yang Tong, Pangeran Yue, sebagai kaisar dan ia diakui sebagai kaisar yang sah oleh sebagian besar pos militer yang masih setia pada Sui. Li Mi yang posisinya terjepit antara pemerintah Sui di Luoyang dan pasukan Yuwen yang sedang menuju utara, untuk sementara menjalin persekutuan dengan pemerintah di Luoyang dan mengakui Yang Tong sebagai pemimpin yang sah. Setelah Li mengalahkan Yuwen, Wang Shichong yang menentang persekutuan itu, mengambil alih kekuasaan dan menjadi wali atas Yang Tong, dengan demikian persekutuan dengan Li Mi putus. Pada akhir tahun itu, Wang melakukan serangan dadakan terhadap Li, Li yang kalah terpaksa melarikan diri ke wilayah Tang. Tahun berikutnya ia mencoba berontak dan dikalahkan pemerintah Tang, lalu dihukum mati.

Di tempat lain, Xue Ju telah wafat pada awal 618 dan digantikan oleh putranya, Xue Rengao. Li Shimin, Pangeran Qin, putra Li Yuan, mengalahkan dan membunuh Xue, seluruh wilayah kekuasaannya pun dianeksasi oleh Tang. Pada saat yang sama, Dou Jiande mengkonsolidasikan wilayahnya di utara Sungai Kuning, ia mengalahkan dan menghukum mati Yuwen yang telah meracuni Yang Hao dan mengangkat dirinya sebagai Kaisar Xu, namun Dou tidak pernah berhasil mengalahkan Luo Yi. Luo sendiri akhirnya menyerah pada pemerintah Tang. Sementara Zhu Can menghadapi perlawanan sengit dari rakyat yang membenci kekejamannya, ia mempertimbangkan antara menyerah pada Yang Tong di Luoyang atau pada Dinasti Tang, dan akhirnya ia memilih pilihan pertama. Pada musim panas 619, Wang menggulingkan Yang Tong dan mendirikan dinastinya sendiri, Dinasti Zheng, dengan dirinya sebagai kaisar.


Penyatuan kembali dibawah Tang
Sementara di Gansu, Li Gui dikudeta oleh bawahannya, An Xinggui dan diserahkan pada Tang. Tang sendiri sedang menghadapi ancaman dari front lain, dimana Liu Wuzhou melakukan ekspansi ke selatan dan merebut sebagian besar wilayah Shanxi yang adalah milik Tang sehingga ibukota Tang, Chang’an terancam. Di wilayah bawah Sungai Yangtze, yang juga bergolak sejak kematian Kaisar Yang, terjadi perebutan kekuasaan tiga tokoh penting disana. Mereka adalah: Shen Faxing, mantan pejabat Sui, yang mengangkat diri Pangeran Liang dan menguasai sebagian besar wilayah selatan Sungai Yangtze; Li Zitong, pemimpin pemberontak, yang menguasai Jiangdu dan sekitarnya dan mengangkat diri sebagai Kaisar Wu; dan Du Fuwei, yang menyerah pada Tang dan menerima gelar Pangeran Wu.

Pada akhir 619, Li Shimin melakukan serangan balasan terhadap Liu Wuzhou. Pada musim panas 620, ia berhasil mengalahkan Liu. Liu kabur ke wilayah Tujue Timur dan wilayahnya jatuh ke tangan pemerintah Tang. Setelah mengalahkan Liu, Li mengalihkan sasarannya ke Kerajaan Zheng pimpinan Wang Shichong. Ia memimpin pasukannya ke ibukota Zheng, Luoyang dan mengepungnya, banyak kota-kota Zheng menyerah pada Tang sehingga Wang terpaksa meminta bantuan pada Kerajaan Xia pimpinan Dou Jiande. Dou yang walaupun secara pribadi tidak menyukai Wang, berpikir, bila Tang berhasil mengalahkan Wang, wilayahnya akan terancam dan menjadi sasaran berikutnya. Maka, Dou memimpin pasukannya ke Luoyang untuk membebaskan kota itu. Pada saat yang sama, Du Fuwei (yang telah berganti marga menjadi Li atas anugerah Kaisar Gaozu) berhasil mengalahkan Li Zitong yang baru mengalahkan Shen Faxing dan memaksanya bunuh diri. Li mencaplok bekas wilayah Shen sementara bekas wilayahnya sendiri dicaplok oleh Li Fuwei dibawah panji Dinasti Tang.

Musim gugur 621, Li Shimin menahan pasukan Dou yang menuju ke Luoyang di Terusan Hulao untuk mencegah mereka bergabung dengan pasukan Zheng. Dalam Pertempuran Hulao, Li mengalahkan Dou dan menangkapnya. Dengan tidak adanya bala bantuan, Wang terpaksa menyatakan menyerah. Kaisar Gaozu menjatuhkan hukuman mati terhadap Dou dan hukuman pengasingan terhadap Wang, namun ketika dalam penahanan untuk menanti dikirim ke tempat pengasingan ia dibunuh oleh Dugu Xiude, yang menaruh dendam padanya karena ayahnya dibunuh Wang. Wilayah Wang dan Dou dianeksasi Tang, namun pada akhir tahun itu bekas wilayah Dou berontak dibawah pimpinan Liu Heita, seorang jenderal Dou yang mengangkat dirinya sebagai Pangeran Handong. Pemberontakan ini diikuti oleh Xu Yuanlang, pemimpin pemberontak dari Shandong yang pernah menyerah pada Zheng dan Tang, ia mengangkat dirinya sebagai Pangeran Lu.

Pada tahun itu juga, Jenderal Li Xiaogong, Pangeran Zhao, sepupu Kaisar Gaozu, menyerang Kerajaan Liang pimpinan Xiao Xi, ia mengepung ibukota Liang, Jiangling (sekarang Jingzhou, Hubei). Xiao yang berhasil dikelabuhi siasat Jenderal Li Jing, tidak menyadari bahwa bala bantuan sedang mendekat, menyerah dan sebagian besar wilayahnya jatuh ke tangan Tang dan sebagian lainnya pada Lin Shihong. Pada saat hampir bersamaan, Li Fuwei berhasil mengalahkan Li Zitong dan memaksanya menyerah, wilayahnya pun dikuasai oleh pemerintah Tang.

Musim semi 622, Li Shimin berhasil mengalahkan Liu Heita dan memaksanya kabur ke wilayah Tujue. Namun Liu kembali ke Tiongkok akhir tahun itu dengan bala bantuan dari Tujue dan berhasil merebut kembali bekas wilayah Xia. Musim dingin tahun itu, Liu kembali menerima kekalahan, kali ini dari kakak Li Shimin, putra mahkota Li Jiancheng. Pada musim gugur 623, Liu yang dalam pelarian, dikhianati oleh bawahannya, Zhuge Dewei, yang meringkus dan menyerahkannya pada Li Jiancheng yang lalu menghukum mati Liu. Dengan kematian Liu, Xu Yuanlang yang telah berkali-kali dikalahkan pasukan Tang, kabur dan akhirnya dibunuh dalam pelariannya. Lin Shihong meninggal pada tahun 622, sepeninggalnya kerajaannya tercerai-berai dan satu-persatu wilayahnya menyerah pada Tang. Maka hingga saat itu rezim separatis yang tersisa tinggal Liang Shidu dan Gao Kaidao, sebagian besar Tiongkok telah dipersatukan di bawah Dinasti Tang.

Musim gugur 623, salah satu letnan Li Fuwei bernama Fu Gongshi memberontak di Danyang, ia mengangkat diri sebagai Kaisar Song dan menguasai daerah bekas kekuasaan Li. Tahun berikutnya ia dikalahkan dan dibunuh oleh Li Xiaogong dan wilayahnya kembali dikuasai Tang. Sementara itu Gao dikudeta oleh bawahannya, Zhang Jinshu, dan melakukan bunuh diri. Kerajaan Yan yang didirikannya juga dianeksasi oleh Tang. Liang Shidu yang aman dalam perlindungan Tujue Timur terus bertahan dari Tang yang sering mengalami gangguan dari serbuan suku barbar itu.

Tahun 626, terjadi Kudeta di Gerbang Xuanwu yang merupakan puncak perselisihan antara Li Shimin dengan kakaknya, Li Jiancheng. Li Shimin membunuh Li Jiancheng dan adiknya, Li Yuanji yang mendukung kakaknya, lalu memaksa ayahnya mengangkatnya sebagai pewaris tahta. Setelah ayahnya mengundurkan diri bulan berikutnya, Li naik tahta sebagai Kaisar Tang Taizong. Kini situasi mulai berbalik, Tujue Timur dilanda konflik internal karena perselisihan antara Jiali Khan, Ashina Duobi (adik Ashina Duojishi) dan Tuli Khan, Ashina Shibobi (putra Ashina Duojishi). Mereka kini tidak sanggup lagi melindungi Liang Shidu dari serbuan Tang yang mengepungnya. Liang Luoren, sepupu Liang, membunuhnya dan menyerahkan diri pada Tang. Seluruh Tiongkok kini telah dipersatukan oleh Dinasti Tang. Pada masa pemerintahan Taizong pula Tiongkok mencapai masa keemasannya, tentaranya ditempatkan di perbatasan membuat gentar bangsa-bangsa barbar, budaya dan ekonomi berkembang pesat sehingga menarik bangsa-bangsa lain untuk membuka hubungan diplomatik dan belajar dari Tiongkok.

Le Loi, Kaisar Pertama Vietnam

Le Loi (Hanzi: 黎俐, 1384/1385? – 1433) adalah kaisar pertama dan pendiri Dinasti Le di Vietnam. Ia merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dan pahlawan besar Vietnam yang membebaskan negerinya dari penjajahan Tiongkok.

Latar belakang
Le lahir sebagai putra bungsu dari tiga bersaudara dari keluarga bangsawan di Lam Son (bagian utara Vietnam). Kota tempat kelahirannya adalah daerah yang belum lama dikolonisasi dan didirikan oleh kakek buyutnya sekitar tahun 1330an, sekarang wilayah tersebut menjadi Provinsi Thanh Hoa. Karena letaknya di perbatasan wilayah itu jauh dari kontrol pemerintah pusat bahkan bisa dibilang setengah merdeka.

Pada awal 1400an, Vietnam berada dalam masa kacau dimana Dinasti Ho menggulingkan Dinasti Tran dan membuat serangkaian perubahan dalam pemerintahan. Keluarga dan pendukung Dinasti Tran meminta bantuan dari Dinasti Ming, Tiongkok untuk merestorasi tahtanya. Kaisar Yongle dari Tiongkok menyanggupi permintaan itu dan mengirim pasukan dalam jumlah besar ke Vietnam. Dengan bantuan pasukan Ming, Tahun 1407, Dinasti Tran berhasil menggulingkan Dinasti Ho dan mengklaim kembali tahtanya. Namun setelah menyelesaikan misinya pasukan Ming belum angkat kaki, mereka ternyata memiliki agenda tersembunyi untuk menguasai Vietnam seperti pada masa lalu ketika jaman Han dan Tang.

Sama seperti Perang Vietnam pada tahun 1960-an dimana Amerika hanya mampu menguasai kota-kota besar, Tiongkok pun hanya memperoleh dukungan dan menguasai kota-kota besar seperti ibukota Hanoi sedangkan di daerah pelosok mereka mendapat perlawanan gencar dari rakyat. Pasukan Ming merampas barang-barang berharga Vietnam seperti emas-permata, batu-batu berharga, literatur dan buku-buku penting, bahkan buku sejarah nasional mereka yang mencatatat sejarah Vietnam hingga Dinasti Tran. Tiongkok juga berusaha membuat bangsa Vietnam kehilangan jati dirinya dengan mempenetrasi budaya mereka, misalnya dengan menerapkan gaya berpakaian dan potongan rambut kepada wanita Vietnam hingga pelarangan terhadap kepercayaan lokal. Le memutuskan untuk berontak melawan Tiongkok ketika ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kekejaman pasukan Ming menghancurkan sebuah desa.


Pemberontakan (1418-1427)
Le memulai pemberontakannya melawan kekaisaran Ming sehari setelah Tahun Baru Tet 1418. Ia mendapat dukungan dari sejumlah keluarga terkemuka di kampung halamannya, Provinsi Thanh Hoa, terutama dari keluarga Nguyen dan Trinh. Pada mulanya ia bekerja di bawah Dinasti Tran yang telah direstorasi. Seorang kerabat kaisar Tran menjadi pemimpin pemberontak selama beberapa tahun. Namun ia belakangan digulingkan dan Le pun diangkat menjadi pemimpin baru dengan gelar Raja Penakluk (Binh Dinh Vuong).

Awalnya pemberontakan itu sering mengalami kegagalan. Ketika itu Le beroperasi di Provinsi Thanh Hoa selama 2-3 tahun dan kekuatannya bukan tandingan pasukan Tiongkok. Maka Le pun mengubah taktiknya menjadi perang gerilya untuk menghadapi pasukan Ming yang jumlahnya lebih besar dan terorganisasi dengan rapi.

Pada tahun 1421, pasukan Ming mengepung pasukan Le di sebuah puncak gunung. Salah seorang jenderal Le bernama Le Lai menyarankan sebuah strategi agar pemimpinnya itu bisa meloloskan diri bersama pasukan utamanya. Le Lai sendiri akan mengalihkan perhatian pasukan Ming dengan menyamar memakai pakaian Le Loi dan memimpin serangan berani mati ke posisi pasukan Ming di kaki gunung. Le Lai bertempur dengan gagah berani, namun ia akhirnya ditangkap dan dihukum mati. Sementara itu, Le Loi dan pasukan utamanya berhasil lolos dari kepungan.

Tahun 1425 pemberontakan telah meluas hingga seantero Vietnam dan daerah-daerah yang semula diduduki pasukan Ming telah diluluh-lantakkan. Kaisar Ming yang baru, Xuande (cucu Kaisar Yongle) mempertimbangkan untuk mengakhiri perang yang melelahkan ini, namun para penasehatnya meminta agar dilakukan usaha terakhir sekali lagi untuk menaklukan provinsi-provinsi yang memberontak. Maka dikirimlah pasukan besar berkekuatan sekitar 100.000 tentara ke Vietnam. Pihak Ming merasa jumlah ini telah cukup untuk menaklukan Vietnam, namun perhitungan mereka salah karena saat itu pasukan Le telah bertumbuh hingga 350.000.

Kampanye militer terakhir ini berujung tragedi bagi pasukan Tiongkok. Ketika kedua pasukan berhadapan dalam sebuah pertempuran, Le memerintahkan pasukannya pura-pura melarikan diri. Jenderal Ming, Liu Shan, terpancing dan memerintahkan pengejaran sehingga terpisah dari pasukan utama. Ketika ia sadar, segalanya telah terlambat, pasukannya dihancurkan, Liu sendiri ditangkap dan dieksekusi. Setelah itu Le mengirim pesan palsu pada sisa pasukan Ming yang berisi pembelotan beberapa jenderal Vietnam. Pasukan Ming dipancing memasuki Hanoi untuk menerima ‘pembelotan’ itu, namun disana mereka malah dikepung dan dibinasakan. Dalam perang itu Tiongkok menderita korban jiwa lebih dari 70.000 orang. Usaha Tiongkok yang ketiga dan terakhir kalinya sejak Dinasti Han untuk menganeksasi Vietnam gagal total.


Kaisar Le Thai To
Tahun 1427, setelah perang selama sepuluh tahun, Vietnam memperoleh kembali kemerdekaannya dan Tiongkok akhirnya mengakui kemerdekaan Vietnam. Le naik tahta sebagai Kaisar Le Thai To (黎太祖) dan mengubah nama kerajaannya dari Annam menjadi Dai Viet (大越). Dinasti baru itu dinamai Dinasti Le dan mendapat pengakuan resmi dari Kaisar Xuande. Le merespon pengakuan ini dengan mengirimkan nota diplomatik ke Tiongkok yang menyatakan Vietnam akan menjadi negara protektorat Tiongkok seperti Dinasti Joseon di Korea dan bersedia untuk melakukan kerjasama dalam berbagai bidang. Tiongkok pun menerima kesepakatan ini. Sisa pasukan Tiongkok di Vietnam mulai dipulangkan ke negara asalnya.

Setelah menjadi kaisar Le melakukan serangkaian perubahan dalam pemerintahan. Ideologi Konfusius, yang telah masuk dan berkembang di Vietnam sejak jaman Tang dan Song, diterapkan dalam sistem pemerintahan. Rekan-rekan seperjuangan dan para jenderal yang telah berjasa membantunya mendirikan dinasti seperti Nguyen Trai, Tran Nguyen Han, Le Sat, Pham Van Sao, dan Trinh Kha diberikannya jabatan penting dalam pemerintahannya.

Le membangun kembali infrastruktur negara seperti jalan raya, jembatan dan kanal yang telah rusak selama masa peperangan. Mereka yang berjasa dalam perang dianugerahi tanah. Le juga memperkenalkan mata uang baru dan memperbaharui hukum. Sistem pemilihan pejabat melalui ujian negara kembali diterapkan. Selama masa pemerintahannya pula agama Kristen mulai masuk ke Vietnam melalui misionaris barat.

Tahun 1430 hingga 1432, Le dan pasukannya sibuk melakukan kampanye militer di wilayah perbukitan hingga bagian barat wilayah pesisir. Tahun 1433, ia jatuh sakit dan kesehatannya makin memburuk. Di ranjang kematiannya ia mengangkat Le Sat sebagai wali untuk membantu putra keduanya, Le Nguyen Long, yang masih berusia sebelas tahun untuk menjalankan pemerintahan. Le Nguyen Long akhirnya naik tahta sebagai Kaisar Le Thai Tong (黎太宗).

Setelah kematiannya, anggota keluarganya dan para bawahannya terjerumus dalam konflik internal yang berdarah-darah. Tran Nguyen Han dan Pham Van Sao dihukum mati tahun 1432. Le Sat yang menjadi wali selama lima tahun juga dihukum mati tahun 1438. Nguyen Trai dihukum mati tahun 1442 karena didakwa bertanggung jawab atas kematian Kaisar Thai Tong yang misterius. Hanya Trinh Kha yang hidup hingga usia tua dan diapun menemui ajalnya dengan dihukum mati tahun 1451.


Le Loi dalam legenda
Banyak legenda dan cerita rakyat yang bercerita tentang Le Loi, salah satunya yang paling terkenal adalah Le dan pedang pusakanya. Kisah ini mirip dengan legenda Inggris mengenai Raja Arthur dan pedang Excalibur. Konon katanya pedang sakti itu memiliki ukiran aksara Hanzi yang artinya ‘kehendak surga’ (thuan thien). Senjata itu diberikan padanya oleh seekor kura-kura emas (Kim Gui), mahkluk dewata dalam mitologi lokal. Dengan pedang itu kabarnya kekuatan Le menjadi setara dengan beberapa lelaki kuat. Versi lain menyebutkan bahwa pedang dan gagangnya berasal dari tempat berbeda, diceritakan bahwa hanya pedangnya saja yang muncul dari sungai dan gagangnya dibuat oleh Le.

Suatu ketika setelah Vietnam memperoleh kemerdekaannya, Le sedang berperahu di sebuah danau di Hanoi. Tiba-tiba dari air muncullah kura-kura emas raksasa yang dulu memberikan pedang tersebut dan mengabil pedang itu dari Le lalu menghilang ke dalam air (versi lain menyebutkan Le mengembalikan pedang itu padanya). Pencarian terhadap pedang dan kura-kura itu tidak membuahkan hasil. Le pun berkata, “para dewa telah meminjamkan pedang itu padaku untuk mengusir musuh. Kini Vietnam telah merdeka dan tiba saatnya bagi pedang itu untuk dikembalikan�. Ia lalu menamai danau itu Ho Hoan Kiem (Danau Kembalinya Pedang),danau itu kini berlokasi di Hanoi.

Sejumlah puisi dan lagu menceritakan dirinya baik tentang kehidupan dan tahun-tahun terakhirnya. Ia dipandang sebagai teladan pemimpin yang adil, bijak dan kompeten. Kini setiap kota di Vietnam menamai jalan raya utamanya menurut namanya, kota Hanoi menamai jalan rayanya dengan nama Jalan Le Thai Tho (gelarnya sebagai kaisar).

Tadamichi Kuribayashi, pahlawan Jepang dalam PD 2

Tadamichi Kuribayashi (栗林忠道, 7 Juli 1891-23 Maret 1945) adalah seorang perwira tinggi Jepang dalam Perang Dunia II yang terkenal prestasinya dalam Pertempuran Iwo Jima. Tugas mempertahankan pulau kecil ini diberikan padanya oleh Jenderal Hideki Tojo. Dalam pertempuran ini dia memimpin kurang lebih 20.000 pasukan tanpa dukungan angkatan udara dan laut melawan 100.000 pasukan Amerika Serikat. Hampir seluruh prajuritnya bertempur sampai titik darah penghabisan, hanya 296 dari mereka yang menyerah. Dia dilaporkan melakukan seppuku menjelang detik-detik terakhir kejatuhan pulau itu ke tangan musuh.

Kehidupan awal
Kuribayashi dilahirkan di perfektur Nagano dari keluarga samurai dan berdarah bangsawan. Dia adalah kepala keluarga yang baik, waktu-waktunya sebisa mungkin dia habiskan bersama keluarganya. Dalam perjalanan dinasnya, dia selalu melakukan komunikasi dengan mereka walaupun secara jarak jauh. Dia pernah mengenyam pendidikan di Kanada dan bertugas dua tahun sebagai deputi atase militer Jepang di Washington DC. Selama masa ini dia sering mengadakan perjalanan di berbagai daerah Amerika Serikat. Perjalanan ini membuatnya mengetahui lebih dalam tentang negara ini dan juga mendapat respek dari orang Amerika. Menurutnya perang modern akan banyak tergantung pada produksi industri, dia pernah mengemukakan pendapatnya ini pada rekan-rekannya bahwa perang dengan Amerika akan sia-sia karena mereka memiliki industri yang kuat, pendapat ini ditentang keras oleh sebagian kaum militer Jepang. Walaupun pandangannya cukup kontroversial, dia adalah salah satu dari sedikit perwira yang pernah mendapat kesempatan audisi dengan Kaisar Hirohito. Selain sebagai pemimpin militer, Kuribayashi juga adalah seorang yang berbakat sastra, karyanya antara lain syair Aikoku Koshin Kyoku (Lagu Cinta Tanah Air).


Pertempuran Iwo Jima
Kuribayashi sudah memperkirakan dua hal dalam menghadapi pertempuran yang menentukan ini yaitu Iwo Jima bagaimanapun akan jatuh juga ke tangan Amerika dan dirinya beserta seluruh pasukannya akan gugur. Namun dia tetap berusaha semaksimal mungkin mempertahankan pulau itu agar Amerika membayar semahal mungkin untuk upayanya.

Kuribayashi sudah mengenali pola penyerangan Amerika, karenanya dia tidak memfokuskan pada pendaratan mereka di pantai. Strateginya adalah menyuruh para insinyurnya untuk mendirikan benteng-benteng pertahanan bawah tanah. Di pulau kecil ini mereka menggali terowongan bawah tanah sepanjang 5000 meter yang saling berhubungan satu sama lain seperti jaring laba-laba.

Taktik ini terbukti keampuhannya. Selama delapan bulan pulau itu dibombardir Sekutu pulau itu, ditambah 72 hari sebelum pendaratan dibom berturut-turut oleh pesawat tempur, dan tiga hari sebelumnya oleh kapal perang mereka memuntahkan ribuan ton peluru pertahanan Kuribayashi tetap kokoh. Pesawat-pesawat pembom bingung menentukan target yang hendak dibom dan foto yang diambil pesawat intai tak ada gunanya karena taktik kamuflase Jepang yang hebat.

Kuribayashi juga pandai membangkitkan semangat anak buahnya, dia menginstruksikan agar setiap orang harus menganggap posisi pertahanannya sebagai kuburannya sendiri, bertempur sampai titik darah penghabisan dan membunuh musuh sebanyak mungkin, targetnya adalah setiap orang membunuh sepuluh musuh sebelum diri sendiri gugur. Dia mengendalikan pasukannya dengan tangan besi sehingga disiplin dan moril mereka baik sekali.

Hari-hari terakhir

16 Maret 1945 pertahanan secara teratur berakhir, tapi Kuribayashi masih hidup , dia hanya terputus kontak dengan sebagian anak buahnya. Mayor Horie yang pernah menjadi salah satu staff Kuribayashi menulis: Letjen Kuribayashi memimpin pertempuran di bawah sinar lilin tanpa istirahat dan tanpa tidur dari hari ke hari. Hubungan antara dia dengan dunia luar masih ada tanggal 15 Maret. Kami kira dia gugur pada tanggal 17 Maret. Dia dipromosikan sebagai jenderal penuh pada hari itu. Dia berkata, “Pertahanan musuh 200 atau 300 meter dari kami, mereka menyerang kami dengan api yang disemburkan dari tank. Mereka menyerukan agar kami menyerah tapi kami tertawa dan tidak menghiraukannya.” Kabar tentang promosinya ini disampaikan Horie melalui kawat, namun tidak diketahui apakah Kuribayashi menerimanya.

23 Maret 1945, kawatnya yang terakhir berbunyi, “Kami tidak makan maupun minum selama lima hari, tapi semangat Yamato, semangat bertempur kami masih tinggi, kami akan bertempur sampai saat terakhir” dan “Kepada perwira-perwira di Chichi Jima, selamat tinggal dari Iwo”. Dia dilaporkan melakukan seppuku di salah satu tempat di terowongan bawah tanah itu, namun jenazahnya tidak pernah ditemukan. Iwo Jima sendiri baru diduduki Amerika tanggal 26 Maret 1945 dengan harga 6.800 tewas dan 17.000 lainnya terluka. Sementara di pihak Jepang hanya 1.083 dari 22.000 orang yang selamat dan tertawan.


Penilaian pihak Sekutu
Amerika tidak bisa tidak merasa kagum pada kegigihan Kuribayashi mempertahankan Iwo Jima hingga titik darah terakhir.Rasa kagum ini telah dimulai sejak hari pertama pertempuran dan terus bertambah hingga berakhirnya pertempuran. Jenderal Holland Smith, komandan pasukan Amerika dalam pertempuran Iwo Jima berkata, “Dari semua lawan kita di Pasifik, Kuribayashi adalah yang paling tiada tanding.” Jenderal Cattes yang pernah secara pribadi menyerukan lewat corong pengeras suara agar Kuribayashi menyerah juga memuji pertahanannya yang luar biasa.

Amerika memang telah beberapa kali berhadapan dengan panglima Jepang yang pandai dan memukau mereka, tapi belum pernah pujian mereka begitu tinggi seperti terhadap Jenderal Kuribayashi. Kuribayashi adalah orang yang harus mereka takuti ketika masih hidup akan tetapi mungkin ia lebih berbahaya setelah meninggal karena ia sanggup menjadi pahlawan perang yang pasti dipuja-puja kalau saja nasionalisme baru tumbuh lagi di Jepang. Maka tidak heran kalau Jenderal Smith juga pernah berkata, “Semoga Jepang tidak pernah memiliki orang lain seperti dia.”


Kutipan
-“Hidup ayahmu ibarat lampu di tengah angin” – kepada putranya, Taro Kuribayashi
-“Engkau jangan berharap akan keselamatanku” – dalam surat kepada istrinya, Yoshie Kuribayashi
-“Amerika Serikat adalah negara terakhir yang akan kita perangi”
-“Musuh akan segera mendarat di pulau ini dan begitu mereka tiba kita akan mengikuti nasib mereka di Attu dan Saipan. Perwira dan prajurit kita tahu persis mengenai kematian. Maaf aku harus mengakhiri hidupku disini berperang dengan Amerika Serikat, tapi aku akan mempertahankan pulau ini sebisa mungkin dan menunda serangan udara musuh atas Tokyo. Ah ! Engkau telah lama menjadi istri yang baik bagiku dan ibu yang baik bagi ketiga anak kita. Hidupmu akan lebih sulit dan keras setelah ini, jaga kesehatanmu dan panjang umur. Masa depan anak-anak kita juga tidak lagi mudah, jaga mereka baik-baik setelah kematianku” – kepada istrinya tidak lama sebelum pertempuran dimulai.
-“Pertempuran sedang mendekati akhir. Karena musuh sedang mendarat, bahkan dewa-dewa pun akan mencucurkan air mata akan keberanian para perwira dan prajurit di bawah komandoku. Orang-orangku gugur satu persatu, saya sangat menyesal telah membiarkan musuh menduduki wilayah Jepang kita” – pesan radio kepada wakil kepala staff Pasukan Kerajaan Jepang.
-“Kami menyesal karena tidak dapat mempertahankan pulau ini dengan baik. Kini aku, Kuribayashi, yakin bahwa musuh akan menginvasi Jepang dari pulau ini. Saya sangat menyesal karena dapat membayangkan bencana yang akan menimpa kekaisaran kita. Namun, setidaknya aku dapat sedikit menghibur diri dengan menyaksikan para perwira dan prajuritku gugur tanpa rasa penyesalan dalam memperjuangkan setiap jengkal medan perang ini menghadapi musuh yang melebihi jumlah kita yang dilengkapi tank dan bombardir yang tak bisa dilukiskan….Saya juga meminta maaf pada seniorku dan rekan-rekan perwiraku atas kekuatanku yang tidak cukup untuk menghentikan invasi musuh”.

As Syahid (Insya Allah) Yahya Ayyasy, Singa Palestina

Ayyasy dilahirkan pada 6 Maret 1966. Beliau tumbuh sebagai seorang anak yang sangat pendiam. Namun di balik diamnya, ternyata beliau menyimpan sebuah kecerdasan yang sangat menakjubkan. Dalam sekolahnya, Ayyasy kecil tidak hanya menguasai pelajaran kelasnya saja, namun juga pelajaran kelas di atasnya.

Beliau lulus SMA pada tahun 1984 dengan akumulasi 92,8. Setelah kelulusannya, beliau mulai aktif di gerakan Hamas. Beliau melanjutkan ke Universitas Beirzeit dengan mengambil jurusan tekhnik listrik. Masa perkuliahannya pun beliau sibukkan dengan aktifitas keislaman. Lulus perguruan tinggi pada tahun 1991 dan menikah pada tahun 1992.

Aktifitas militernya sudah beliau mulai pada tahun 1991. Dalam berjuang, beliau mempunyai pemahaman yang mendalam tentang arti sebuah perjuangan. Perjuangan telah menjadi nafas dan darahnya. Seluk-beluk perang pun beliau tekuni, sampai bisa ditentukan titik lemah penjajah Israel dan pusat kekuatan rakyat Palestina.

Maka kemudian dirancanglah sebuah perang yang menggabungkan dua hal di atas. Lahirlah Intifadhah I. Perang yang mempertemukan dua kubu; orang-orang yang takut mati, dan orang-orang yang mencari-cari kematian. Sungguh perang yang tidak seimbang.

Dalam aksi Intifadhah ini, diperlukan bahan peledak yang sangat banyak. Aksi-aksi peledakan diri, atau yang sering disebut bom syahid, dan aksi-aksi lainnya menghabiskan bom rakitan yang tidak sedikit. Perlawanan Palestina tidak mempunyai cadangan yang banyak karena semua jalan masuknya bantuan telah ditutup. Namun dari pikiran beliau, lahirlah ide untuk memanfaatkan bahan-bahan kimia dasar dalam membuat bom. Bahan-bahan ini banyak tersedia di apotik-apotik. Maka, setelah itu ledakan demi ledakan mengucang Israel.

Kerja pertama beliau adalah merakit bom pada sebuah mobil. Namun sayangnya, secara tidak sengaja, hal ini diketahui Israel. Setelah pengangkapan dan pemeriksaan yang ketat dan kejam, tersebutlah nama Ayyasy sebagai Wanted No 1. Ayyasy pun menjadi buron. Pada 25 April 1993, rumah beliau sempat digeledah Israel. Namun mereka tidak menemukan apa-apa. Dan ketika mereka mengancam keluarganya, sang Ibu malah mengatakan, "Yahya telah pergi tanpa meninggalkan apa-apa untuk kami. Sejak dia menjadi buron, dia bukan lagi anak kami, tapi anak Batalion al-Qassam." Sebuah sikap yang sangat menjengkelkan Israel. Sikap yang terbentuk dari sebuah tarbiyah panjang dalam gerakan Hamas.

Kurang-lebih empat tahun masa buron, Israel dengan segala kekuatannya kehabisan akal menangkap Ayyasy. Sebaliknya, empat tahun pula Ayyasy mencapai kegemilangan membuat ledakan di sana-sini. Menciptakan sebuah mitos bahwa bangsa Yahudi selamanya tidak akan merasa aman hidup di tanah jajahan mereka. Masa buronan adalah masa perjuangan beliau. Dalam perjuangan itu, beliau benar-benar mengorbankan kehidupannya untuk Palestina. Seorang insinyur yang seharusnya bisa menikmati kehidupan enak dengan bekerja di luar negeri seperti yang dilakukan kebanyakan rekannya, kini hidup tidak menetap dan selalu terancam. Bahkan dalam masa ini pula, dua orang anaknya lahir. Yang pertama lahir pada awal masa buronnya, dan yang kedua lahir dua hari sebelum beliau mendapatkan syahadah.

Ada beberapa pelajaran yang beliau berikan kepada para pejuang Islam. Pertama, pejuang Islam harus mempunyai pondasi akidah dan iman yang kuat. Karena kedua hal inilah yang membuat manusia selalu merindukan kematian. Kedua, sirriyah dan bisa menjaga lisan. Semua operasi yang dilakukan Ayyasy dan Batalion al-Qassan dilakukan dengan super rahasia sehingga peristiwanya tidak bisa diketahui Israel sebelum terjadi. Dan Israel pun mendapatkan kesulitan untuk bisa menembus tubuh al-Qassam.

Ketiga, keterampilan menghilang dari mata musuh. Semua unsur Israel telah dikerahkan untuk menangkapnya, mulai dari tentara unit-unit militer khusus, kepolisian, tentara perbatasan, dan dinas intelijen, tapi tidak ada yang berhasil meringkusnya. Karena kelihaiannya ini, beliau digelari sang jenius, manusia berwajah seribu, manusia bernyawa tujuh, dan sebagainya. Prestasi gemilang yang pernah diraihnya adalah menerobos ke jalur Gaza dan membuat aksi di sana, padahal untuk sampai kesana beliau harus melewati ribuan tentara dan dinas intelijen. Prestasi ini sampai membuat Yitsak Rabin menggebrak meja dalam sebuah rapat. Keempat, jihad; ‘isy kariman au mut syahidan. Beliau selalu bersikeras melanjutkan perjuangannya dan mempersiapkan diri untuk mati syahid. Tidak beliau hiraukan anjuran-anjuran untuk melarikan diri ke luar negeri.

Empat tahun Yitsak Rabin memasang nama Ayyasy pada urutan pertama dalam file khusus orang-orang yang sangat berbahaya. File ini mendapat prioritas dalam program pemerintahannya. Tapi yang mengherankan, file itu masih ada di tangannya ketika seorang Yahudi fundamentalis memuntahkan peluru di depan mukanya. Peristiwa itu menambah malu dinas intelijen dan keamanan Israel. Belum berhasil menangkap Ayyasy, dihadapkan lagi permasalahan baru. Dalam situasi yang genting ini, direktur SABAK, dinas intelijen Israel, mengajukan pengunduran dirinya. Permohonan ini pun ditolak karena hanya akan menambah rakyat Israel kurang percaya diri.

Oleh karena itu, untuk mengembalikan rasa percaya dirinya, strategi pembunuhan Ayyasy dirancang lebih bagus dengan melibatkan pihak yang lebih banyak lagi. Pembunuhan ini diharapkan akan menjadi permulaan babak baru perjuangan Palestina. Perjuangan tanpa para perusak. Tapi apakah harapan mereka terwujud?

Jum’at, 5 Januari 1996, televisi Israel mengumumkan bahwa Ayyasy telah mati di Beit Lahia, Jalur Gaza. Seluruh Palestina, bahkan umat Islam seluruh dunia menangis. Sebuah bom telah dipasang dalam pesawat HT nya. Pesawat itu diterimanya dari seorang pedagang yang ternyata mempunyai hubungan dengan intelijen Israel.

Kematiannya sungguh sangat memilukan. Seorang pejuang harapan rakyat telah meninggalkan mereka. Tapi setidaknya, hal itu memberi pelajaran baru bagi mereka. Ada tiga hal yang bisa diambil. Pertama, jihad masih menjadi satu-satunya solution bagi perjuangan Palestina. Kedua, perjuangan yang ikhlas akan memberikan pengaruh yang baik bagi rakyat banyak. Ketiga, Israel masih harus berhadapan dengan kemarahan rakyat Palestina yang tidak akan pernah padam.

Ternyata harapan Israel hanya tinggal harapan. Babak perjuangan belum ending. Hanya dalam tempo sepuluh hari setelah kematian Ayyasy, empat kali operasi bom syahid berhasil dilancarkan oleh para penerus Ayyasy. Dan ternyata Ayyasy masih hidup. Bahkan sampai sekarang. Semangat dan namanya akan terus berada dalam benak hati kita. Beliaulah tokoh perjuangan.

Beliau tidaklah berambisi mencatat namanya dalam sejarah, tapi sejarahlah yang mencari sosok-sosok pemimpin pejuang semacam beliau. Beliau bukanlah orang yang gila ketenaran, tapi masyarakatlah yang selalu mencari-cari sosok seperti beliau untuk menjadi panutan dalam berjuang.

Syaikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz

Nama lengkapnya adalah Sayyid Imam bin Abdul Aziz Imam Asy Syarif. Bisa juga dipanggil dengan sebutan Dr Fadhel, namun lebih populer dengan nama Syaikh Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz. Lahir pada Agustus 1950 di kota Bani Suwaif, Mesir Selatan. Menuntut ilmu dan menghafal Al Qur`an sejak kecil serta mulai menulis buku sejak awal usia mudanya.

Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kairo tahun 1974 M dengan meraih predikat Mumtaz (cum laude). Setelah lulus ia sempat bekerja sebagai Wakil Kepala Bagian Operasi pada Jurusan Spesialis Mata di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo.

Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz mulai menjadi buron pemerintahan Mesir pasca terbunuhnya Anwar Sadat pada tahun 1981 M, namun ia berhasil meloloskan diri keluar dari Mesir. Kemudian Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz bekerja sebagai direktur sebuah rumah sakit milik Bulan Sabit Merah Kuwait di Kota Peshawaar, Pakistan. Dengan dibantu oleh Dr Aiman Azh Zhawahiri. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz menikah dengan seorang wanita Palestina dan dikarunia empat orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Di Pakistan itulah Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz sempat meraih gelar doktor dibidang bedah disalah satu universitas di sana.

Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz kemudian meninggalkan Pakistan dalam rangka menghindari kejaran pihak intelijen. Pada saat bersamaan terjadi penangkapan terhadap orang-orang Aron di daerah Peshawar pada tahun 1993 M. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz kemudian menuju Sudan.

Beliau sempat tinggal di Yaman pada saat akhir perang saudara antara Yaman Utara dengan Yaman Selatan dan kemudian bekerja di Rumah Sakit Ats Tsaurah Al `Aamm di Kota Ib sebelah selatan Ibukota Shan`a, sebagai sukarelawan. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz sempat menikahi seorang wanita dari daerah tesebut, dan kemudian dikaruniai satu orang anak perempuan. Selanjutnya Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz bekerja di sebuah Rumah Sakit Spesialis Daar Asy Syifaa.

Pada bulan April 1999 M, Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz divonis penjara seumur hidup dalam kasus “orang-orang yang kembali dari Albania”, padahal beliau sama sekali tidak pernah pergi ke sana. Setelah peristiwa 11 September 2001 M, pada tanggal 28 Oktober 2001 M, beliau ditangkap oleh pemerintahan thoghut Yaman. Selanjutnya beliau dipenjara di rumah tahanan poliyik yang berada di Shan`a selama 2 tahun 5 bulan.

Terakhir Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz di ekstradisi ke Mesir yaitu pada tanggal 28 februari 2004 M, oleh pemerintah Mesir. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz dan sejumlah kawan seperjuangannya dipenjara dan ada pula yang divonis hukuman mati.

Yu Qian, jenderal setia penyelamat Dinasti Ming

Yu Qian (Hanzi: 于谦, 1398-1457) adalah seorang jenderal pada pertengahan Dinasti Ming. Ia adalah seorang pejabat yang jujur dan dicintai rakyat. Ketika terjadi Insiden Tumubao tahun 1449 dimana Kaisar Zhengtong tertangkap dalam pertempuran dengan Mongol, Yu menghalau serbuan bangsa barbar itu terhadap ibukota Beijing dan mendukung adik kaisar, Zhu Qiyu naik tahta sebagai Kaisar Jingtai sehingga Dinasti Ming selamat dari kehancuran. Setelah Kaisar Zhengtong pulang dan kembali naik tahta, ia termakan fitnah dari lawan-lawan politik Yu sehingga menjatuhkan hukuman mati padanya.

Kehidupan awal
Yu Qian dilahirkan di Qiantang, Provinsi Zhejiang. Sejak kecil ia sudah memiliki aspirasi tinggi, juga mahir dalam ilmu beladiri dan menulis puisi. Banyak dari puisi-puisinya yang berisi ekspresi patriotisme dan kecintaan pada negara. Tokoh yang dikaguminya adalah Wen Tianxiang, perdana menteri terakhir Dinasti Song yang gugur dengan mulia karena mempertahankan kesetiaan pada negara. Ia meraih gelar Jinshi (gelar akademis tertinggi pada masa itu) pada tahun 1421, masa pemerintahan Kaisar Yongle dan langsung mendapat jabatan sebagai petugas adminstrasi kekaisaran. Tahun 1426, ketika Kaisar Xuande baru bertahta, Yu berpartisipasi dalam menumpas pemberontakan oleh paman kaisar, Zhu Gaoxu. Itulah yang menjadi sukses pertama dalam karirnya, sejak itu reputasinya mulai dikenal luas.

Tahun 1427, ia dikirim ke Jiangxi untuk menjadi komandan militer di wilayah itu. Tiga tahun setelahnya ia dipindahkan ke Departemen Perang sebagai wakil menteri. Tahun 1431, ia mendapat tanggung jawab lebih besar lagi dengan memangku jabatan sebagai inspektur militer yang berkuasa atas wilayah Henan dan Shanxi. Ia menduduki jabatan ini selama 19 tahun ke depan. Selama menjabat ia banyak menangani kasus-kasus sulit dan membela rakyat kecil yang menjadi korban penindasan para pejabat korup dan tuan tanah. Ia membangun banyak lumbung-lumbung padi untuk persiapan menghadapi gagal panen dan kelaparan. Dananya dihimpun dari sumbangan para pejabat dan orang-orang kaya di wilayah kekuasaannya. Ia juga pernah ikut bekerja bersama para kuli merenovasi tanggul Sungai Kuning yang dibangun untuk menahan banjir bila air sungai meluap.

Tahun 1445, Provinsi Henan dibanjiri oleh pengungsi dari Shandong, Shanxi dan Shaanxi yang ditimpa bencana kelaparan. Menurut hukum pada saat itu, rakyat yang tidak memiliki tanda pengenal yang memasuki wilayah lain harus dikembalikan ke tempat asalnya dan namanya akan dimasukkan dalam daftar hitam. Namun atas alasan kemanusiaan, Yu dengan berani melanggar peraturan itu dan menyatakan siap menerima konsekuensinya. Ia memberi tempat penampungan bagi para pengungsi itu dan membuka lumbung-lumbung di Henan untuk memberi makan mereka. Ia bahkan membantu mengurus ijin tinggal bagi mereka yang ingin menetap dan memberikan modal berupa bibit dan hewan ternak untuk memulai hidup baru. Atas kebaikannya, rakyat menganggap Yu sebagai reinkarnasi Bao Zheng (hakim legendaris pada masa Dinasti Song yang terkenal sebagai pejabat yang berintegritas tinggi).


Kemunduran Dinasti Ming
Tahun 1435, putra Kaisar Xuande, Zhu Qizhen, naik tahta dengan gelar Kaisar Zhengtong. Tidak seperti ayahnya yang bijak, Zhengtong adalah seorang penguasa yang malas dan gemar main perempuan. Ia mempercayakan urusan negara pada kasim kesayangannya, Wang Zhen, seorang penjilat dan korup. Wang menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingannya sendiri. Semua dokumen yang masuk ke istana harus melaluinya terlebih dahulu. Kecewa dengan semua ini, Yu Qian berencana mengundurkan diri dan merekomendasikan seorang pejabat lain untuk menggantikan posisinya. Mendengar hal itu, Wang Zhen marah dan memvonis Yu dengan hukuman mati atas tuduhan memberontak. Namun hukuman itu akhirnya diubah menjadi hukuman penjara. Setelah tiga bulan mendekam di penjara, barulah ia dibebaskan namun dimutasikan ke jabatan yang lebih rendah. Ribuan pejabat dan rakyat dari Shanxi dan Henan yang mencintainya mengirim petisi ke istana untuk meminta Yu dipulihkan ke jabatannya semula, bahkan beberapa pangeran Ming pun turut membelanya. Kaisar pun akhirnya memulihkan jabatan Yu karena banyaknya tuntutan dari berbagai pihak itu.

Tahun 1448, Yu Qian kembali menempati jabatan wakil menteri perang. Pada tahun 1449, Esen Khan, seorang pemimpin suku Wala (cabang suku Mongol) yang ambisius dan bercita-cita membangkitkan Dinasti Yuan, menyerang kota-kota di perbatasan utara Tiongkok seperti Liaodong, Xuanfu, Datong, dan Ganzhou. Wang Zhen membujuk kaisar agar turun ke medan perang dan memimpin pasukan secara pribadi demi meninggikan semangat prajurit, Wang berbuat demikian karena ia khawatir kampung halamannya di Hebei jatuh ke tangan pasukan Mongol. Banyak pejabat termasuk Yu Qian menentang rencana ini karena terlalu berisiko. Sayangnya, Kaisar Zhengtong yang keras kepala itu tidak mendengarkan nasehat mereka, ia tetap berangkat ke perbatasan utara dengan persiapan yang terburu-buru. Karena kegegabahan Wang Zhen dan juga 500.000 pasukan itu belum terlatih dengan baik, mereka mengalami kekalahan dari pasukan Mongol. Pasukan Ming mundur dan terkepung di Benteng Tumu di Kabupaten Huailai, Provinsi Hebei. Hampir seluruh pasukan itu binasa, Kaisar Zhengtong ditangkap oleh Mongol, dan Wang Zhen dibunuh oleh Jenderal Fan Zhong yang mempersalahkannya atas malapetaka ini. Peristiwa yang dikenal dengan nama Insiden Tumubao ini merupakan awal kemunduran Dinasti Ming.

Sang Penyelamat Negara
Kabar tertangkapnya Kaisar Zhengtong itu menimbulkan kegemparan di ibukota. Beberapa menteri mengusulkan untuk memindahkan ibukota ke Sichuan untuk menyelamatkan pemerintahan dari serbuan Mongol. Yu Qian dengan berani mengecam mereka yang mengusulkan untuk kabur ke Sichuan. Ia berpendapat bahwa berbuat demikian akan memperlihatkan kelemahan pada musuh, ia juga mengingatkan jangan sampai tragedi Penghinaan Jingkang (靖康之耻,peristiwa pada masa Dinasti Song dimana dua kaisar Song ditangkap dan keluarga istana mengungsi ke selatan menghindari invasi suku Jurchen sehingga kehilangan banyak sekali wilayah di utara) terulang kembali. Ibusuri menerima argumen Yu dan memerintahkan agar pasukan dari Henan dan Shandong dipanggil ke Beijing untuk memperkuat pertahanan. Rapat darurat memutuskan untuk mengangkat adik tiri Zhengtong, Zhu Qiyu, Pangeran Cheng sebagai kaisar dengan gelar Kaisar Jingtai untuk mengisi kevakuman kuasa. Yu dipromosikan sebagai menteri perang dan bertanggung jawab penuh atas pertahanan kota Beijing.

Bulan berikutnya Esen Khan beserta pasukannya sudah akan tiba di Beijing. Jenderal Shi Heng mengusulkan untuk menutup kesembilan gerbang kota dan menyerang musuh dari balik tembok. Yu menolak usul itu, ia memerintahkan para perwira pemberani memimpin 220.000 pasukan untuk menyambut musuh di tiap gerbang kota sementara ia sendiri juga turut memimpin pasukan di Gerbang Desheng. Pertempuran sengit terjadi selama lima hari di luar tembok kota. Tidak satupun dari gerbang kota itu berhasil diduduki pasukan Mongol sehingga mereka terpaksa mundur ke pinggiran kota dimana mereka mereka masih harus menghadapi perlawanan sengit dari rakyat yang menyerang mereka dengan batu dan senjata seadanya. Esen pun akhirnya menyerah dan menarik mundur pasukannya. Sebelum mundur ia mengajukan negosiasi damai dengan Kaisar Zhengtong sebagai sandera untuk meminta tebusan berupa emas dan sutra, namun Yu dengan tegas menolaknya.

Pada awal tahun 1450, Esen Khan kembali menyerang wilayah perbatasan namun selalu berhasil dipukul mundur oleh pasukan Ming. Esen masih menggunakan Kaisar Zhengtong sebagai alat untuk meminta tebusan dari Tiongkok, namun permintaannya selalu ditolak. Yu selalu menolak permintaan negosiasi damai dari Esen karena sebelumnya beberapa utusan Ming yang dikirim untuk bernegosiasi selalu menemui kebuntuan bahkan pernah dibuntuti untuk melakukan serbuan terhadap pos-pos jaga di perbatasan. Meskipun para menteri dan keluarga istana mengharapkan Zhengtong dikembalikan dengan selamat, Yu selalu menegaskan bahwa kedaulatan negara lebih penting daripada kaisar karena sekarang negara sudah memiliki kaisar baru dan jangan sampai tunduk oleh tekanan musuh hanya demi kembalinya Zhengtong. Di dalam negeri, Yu juga banyak membantu Kaisar Jingtai menjalankan pemerintahan.

Hingga pertengahan 1450, Esen Khan semakin frustasi, usahanya menembus perbatasan tidak pernah ada yang berhasil karena Yu telah membuat persiapan-persiapan perang yang matang, selain itu konflik internal di pihaknya semakin membara. Esen merasa tidak ada gunanya lagi menahan Zhengtong lebih lama sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri perang dan mengembalikan Zhengtong ke Tiongkok. Tak lama kemudian Esen tewas terbunuh dalam konflik internal itu. Kembalinya Zhengtong disambut gembira oleh para menteri dan keluarganya, kecuali adiknya. Kaisar Jingtai tidak rela mengembalikan singasana yang telah didudukinya pada kakaknya. Ia mengenakan tahanan rumah pada kakaknya dan memberinya gelar sebagai mantan kaisar (太上皇, Taishanghuang). Dalam hal ini, Yu berpihak pada Jingtai dan mendukungnya untuk tetap bertahta.

Walaupun telah berjasa besar bagi negara, Yu tidak pernah bersikap besar kepala dan selalu disiplin terhadap dirinya sendiri. Ketika Kaisar Jingtai menghadiahi sebuah rumah mewah di daerah elit padanya, ia lebih memilih tetap tinggal di rumahnya yang sederhana, jawabnya pada sang kaisar, “Negara kini sedang susah, hamba sebagai menteri tidak dapat mendahului kepentingan pribadi.” Shi Heng yang kurang memberi kontribusi ketika Beijing diserang, mencoba mencari muka pada Yu Qian. Ia mengirim surat rekomendasi untuk mengangkat Yu Mian, putra Yu Qian, sebagai pejabat di ibukota. Yu Qian, yang anti nepotisme dan tahu persis bahwa putranya bukanlah orang yang tepat untuk jabatan itu, menolak. Ia menegaskan alasannya di hadapan kaisar, “Shi Heng sebagai pejabat seharusnya mencari dari kalangan rakyat bukannya dari kalangan keluarga menteri, putra hamba bukanlah orang yang mampu untuk jabatan itu, hamba yakin masih banyak orang berbakat di kalangan bawah yang lebih pantas mengisi jabatan itu, tindakan Shi Heng itu sangat tidak etis di hadapan publik.”


Restorasi Zhengtong dan kematian

Pada awal tahun 1457, Kaisar Jingtai jatuh sakit akibat terlalu berduka atas kematian putra mahkotanya setahun sebelumnya dan ia tidak memiliki putra lain untuk dijadikan pewarisnya. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para pejabat yang tidak puas padanya seperti Shi Heng, Xu Youzhen dan kasim Cao Jixiang untuk menyerbu ke istana selatan, tempat Zhengtong dikenai tahanan rumah. Keesokan harinya menjelang fajar, Zhengtong telah resmi bertahta untuk kedua kalinya. Tak lama setelah bertahta, ia menangkapi para pejabat yang pro-Jingtai termasuk Yu Qian.

Ketika Yu dan Wang Wen, seorang menteri lain yang pro-Jingtai diadili atas tuduhan pemberontakan, hakim tidak menemukan bukti apapun mengenai tuduhan itu. Namun Xu Youzhen dan Shi Heng berkata, “Walau tidak ada bukti yang jelas, namun maksud pemberontakan mereka telah jelas.” Wang Wen yang tidak terima dengan tuduhan yang dibuat-buat itu, membela diri dengan penuh amarah. Namun Yu Qian hanya tersenyum sinis dan berkata, “Sudahlah Tuan Wang, sekuat apapun pembelaan anda tidak akan ada gunanya, mereka tidak akan peduli benar ataupun salah, mereka hanya menginginkan kematian kita.” Zhengtong sendiri sebenarnya ragu untuk menghukum mati Yu mengingat kontribusinya yang sangat besar pada negara, namun karena hasutan Xu Youzhen, dengan berat hati ia memutuskan Yu Qian untuk dihukum mati.

Pada 1457, Yu Qian yang telah berusia 59 tahun digiring ke pasar timur Beijing untuk dihukum mati. Setelah itu keluarganya dikirim ke pengasingan. Ketika istana mengirim prajurit untuk menyegel rumahnya dan menyita harta bendanya, mereka tidak menemukan barang berharga di rumah itu. Disana hanya terdapat buku-buku, senjata untuk latihan beladiri, dan peralatan rumah tangga seadanya. Para prajurit itu sangat terharu dan meneteskan air mata mengetahui pejabat yang demikian jujur dan setia harus berakhir setragis itu. Rakyat jelata juga sangat berduka setelah mendengar kabar ia dihukum mati. Pada tahun 1460, Shi Heng dan Cao Jixiang melakukan pemberontakan yang gagal. Saat itulah Zhengtong sangat menyesal telah menghukum mati Yu Qian. Ia merehabilitasi nama Yu Qian dan keluarganya. Jenazah Yu dibawa pulang ke kampung halamannya dan dimakamkan dengan layak di tepi Danau Barat (Xihu), Hangzhou.
 

Kitabul Asykariy Copyright © 2009 Black Nero is Designed by Ipietoon Blogger Templates Sponsored by Online Business Journal