Pada tanggal 26 Agustus 1071, pasukan Romawi Timur yang dipimpin Kaisar Romanus Diogenes IV bertemu dengan pasukan Turki Saljuk yang dipimpin oleh Alp Arslan di kota Malazgirt ( Manzikert ) bagian dari Provinsi Basprakania, sekarang Armenia. Pertempuran itu sendiri memainkan peran penting dalam melemahnya Kekaisaran Romawi Timur dan jatuhnya Anatolia pada Turki Saljuk.
Sepanjang dekade 1060-an bangsa Turki Sakjuk dan Kurdi memulai migrasi mereka ke daerah Asia Kecil dan membangun berbagai pemukiman bagi mereka dan keluarga mereka. Pada 1064, mereka menyerbu Armenia dan 4 tahun kemudian kaisar Romanus memimpin expedisi untuk menaklukkan daerah2 yang telah diambil ailh. Sebelum pertempuran Manzikert, Romanus telah mengajukan perjanjian damai dengan Alp, jika ia mengembalikan Edessa, maka Romanus akan mengembalikan Hierapolis. Tetapi kesepakatan itu gagal
Tentara Romawi berkisar di angka 60-70.000 orang, dengan sebagian orang merupakan kaum Frank, Saxon, dan Nordmen. Sementara kaum Muslim mempunyai 30.000 orang. Perjalanan menuju Asia Kecil cukup sulit dan panjang, mereka beristirahat Sebasteia, dan kemudian pada Juni 1071 mencapai Theodosiopolis. Pasukan Romawi sendiri terpecah menjadi dua kubu, kubu pertama menganjurkan agara Romanus menunggu dan mempersiapkan diri menghadapi pertempuran, sementara kubu yang lain menginginkan agar pasukan maju secepatnya sebelum Arslan menyadari apa yang terjadi. Ketika mencapai danau Van, Romanus mengirim sekitar 30.000 pasukannya untuk menyerang kota benteng Khilat di bawah pimpinan Joseph Tarchaneiotes. Keputusan ini membuat tentara Romawi terpecah menjadi dua, setengah berada di bawah komando Romanus, dan setengah nya lagi berada dibawah komando Joseph yang menyerang Khilat. Sultan Arp Arslan yang mengetahui berita ini segera bergegas dan memutari wilayah itu, berhasil memukul pasukan Joseph dari samping. Pasukan Joseph sendiri kemudian tidak ikut dalam pertempuran dan memilih bertahan di Melitena.
Romanus tidak menyadari bahwa pasukan Joseph telah mundur dan melanjutkan expedisi,ketika pasukan pengintainya melaporkan kehadiran pasukan Arslan di Timur Manzikert, Romanus tidak mempercayai dan mengirimkan Cavalery nya untuk menyerang Arslan, ia mengira Arslan sedang bertempur dengan Joseph di Khliat. Cavalery Romawi di bawah Nikiforos Vasilakis Romanus dipukul mundur pada 21 Agustus, bahkan jendral Nikiforos sendiri tertawan. Keesokan harinya tentara Turki memilih mundur dan bertahan di dataran tinggi untuk mengantisipasi terjadinya serangan balasan. Romanus kemudian berhasil mendapatkan Manzikert dengan cukup mudah, tetapi pertempuran yang sesungguhnya terjadi pada tanggal 26 Agustus, di sebelah timur kota Manzikert, dan sebelah Utara danau Van.
Pasukan Romawi menggelar formasi melebar. Di bagian tengah terdiri 15.000 pasukan inti pilihan yang dipimpin oleh kaisar sendiri. Sayap kanan nya yang terdiri dari pasukan Armenia, Scandinavia, dan Slavia di bawah komando Theothoro Attaliati. Di sayak Kiri terdiri dari pasukan Yunani yang dipimpin oleh Nikiforo Briennio. Dan terahkir, di posisi belakang yang terdiri dari pasukan Saxon, Frank, dan Nordmen dipimpin oleh Andronikos Doukas, rival politik dari sang kaisar.
Kira2 pada tegah hari, pertempuran pun dimulai. Tentara Turki yang menyadari benar kwalitas dari pasukan Romawi yang legendaris menggunakan taktik Hit and Run, dengan mem-provokasi pasukan Romawi dengan panah2 yang ditembakkan secara teratur, tetapi menghindari pertempuran langsung jarak dekat. Seorang pemanah turki yang terlatih konon mampu membidik celah diantara Lorica Segmentata, baju tempur romawi. Taktik itu sendiri kemudian berhasil memancing pasukan Romawi sehingga barisan depan pasukan Romawi terpisah cukup jauh dari gugus yang dibelakangnya. Ketika Romanus menyadari hal ini, ia memerintahkan pasukannya untuk me-regroup dan kembali ke Camp. Perintah ini tidak sepenuhnya dipahami oleh gugus sayap kanan dan sayap kiri. Mendadak situasi menjadi geting, Arslan yang mengamati jalan-nya pertempuran dari atas bukit memerintahkan seluruh pasukannnya untuk menyerang ke-15.000 pasukan yang dipimpin oleh kaisar. Sayap kanan berhasil bergabung, dan disusul sayap kiri, meskipun terlambat tetapi tetap berbalik dan menggabungkan diri. Sementara gugus belakang, entah karena memang berniat jahat, entah karena kesalahan informasi, pasukan Andronicus Ducas tidak berbalik dan tetap kembali ke perkemahan.
Hasilnya adalah suatu bencana total bagi pasukan Kaisar. Romanus bertahan mati2 an dalam keadaan dikepung oleh pasukan Arslan. Tetapi bagaimanapun pasukan Romawi adalah pasukan yang ter-organisir selama ratusan tahun, dan menunjukkan kwalitas sebagai satu kesatuan tempur yang solid ketika menghadapi situasi sulit. Sebaliknya, Arslan juga tidak ingin melewatkan kesempatan ini begitu saja. Dan, ketika malam tiba, pasukan inti Bizantium hancur seiring dengan Legionaire-nya yang berguguran di tempat mereka bertahan. Malam itu juga Romanus menjadi tawanan Arslan
Sultan kemudian membebaskan Romanus 8 hari kemudian. Tragisnya, Romanus justru menghadapi kudeta dari Caesar John Doukas ayah Andronikos, dan Michael Psellos. Istrinya dipaksa untuk masuk biara, sementara dirinya sendiri dipenjara di Cilicia. Setelah berjanji untuk tidak mengklaim kembali tahta nya dari Kaisar Michael VII Doucas, Romanus justru dibutakan pada 29 Juni 1072, dan meninggal tak lama sesudahnya karena infeksi yang parah dari pembuta'an matanya.
Pada 1084 Turki Saljuk menaklukkan Antioka dan pada 1092 kota Nicea, Kaisar Bizantium berikutnya Alexius I Comnenus, menantu Andronikos Doucas meminta bantuan Paus Urban II untuk mengirimkan expedisi yang kemudian di kenal dunia sebagai Perang Salib.
Sepanjang dekade 1060-an bangsa Turki Sakjuk dan Kurdi memulai migrasi mereka ke daerah Asia Kecil dan membangun berbagai pemukiman bagi mereka dan keluarga mereka. Pada 1064, mereka menyerbu Armenia dan 4 tahun kemudian kaisar Romanus memimpin expedisi untuk menaklukkan daerah2 yang telah diambil ailh. Sebelum pertempuran Manzikert, Romanus telah mengajukan perjanjian damai dengan Alp, jika ia mengembalikan Edessa, maka Romanus akan mengembalikan Hierapolis. Tetapi kesepakatan itu gagal
Tentara Romawi berkisar di angka 60-70.000 orang, dengan sebagian orang merupakan kaum Frank, Saxon, dan Nordmen. Sementara kaum Muslim mempunyai 30.000 orang. Perjalanan menuju Asia Kecil cukup sulit dan panjang, mereka beristirahat Sebasteia, dan kemudian pada Juni 1071 mencapai Theodosiopolis. Pasukan Romawi sendiri terpecah menjadi dua kubu, kubu pertama menganjurkan agara Romanus menunggu dan mempersiapkan diri menghadapi pertempuran, sementara kubu yang lain menginginkan agar pasukan maju secepatnya sebelum Arslan menyadari apa yang terjadi. Ketika mencapai danau Van, Romanus mengirim sekitar 30.000 pasukannya untuk menyerang kota benteng Khilat di bawah pimpinan Joseph Tarchaneiotes. Keputusan ini membuat tentara Romawi terpecah menjadi dua, setengah berada di bawah komando Romanus, dan setengah nya lagi berada dibawah komando Joseph yang menyerang Khilat. Sultan Arp Arslan yang mengetahui berita ini segera bergegas dan memutari wilayah itu, berhasil memukul pasukan Joseph dari samping. Pasukan Joseph sendiri kemudian tidak ikut dalam pertempuran dan memilih bertahan di Melitena.
Romanus tidak menyadari bahwa pasukan Joseph telah mundur dan melanjutkan expedisi,ketika pasukan pengintainya melaporkan kehadiran pasukan Arslan di Timur Manzikert, Romanus tidak mempercayai dan mengirimkan Cavalery nya untuk menyerang Arslan, ia mengira Arslan sedang bertempur dengan Joseph di Khliat. Cavalery Romawi di bawah Nikiforos Vasilakis Romanus dipukul mundur pada 21 Agustus, bahkan jendral Nikiforos sendiri tertawan. Keesokan harinya tentara Turki memilih mundur dan bertahan di dataran tinggi untuk mengantisipasi terjadinya serangan balasan. Romanus kemudian berhasil mendapatkan Manzikert dengan cukup mudah, tetapi pertempuran yang sesungguhnya terjadi pada tanggal 26 Agustus, di sebelah timur kota Manzikert, dan sebelah Utara danau Van.
Pasukan Romawi menggelar formasi melebar. Di bagian tengah terdiri 15.000 pasukan inti pilihan yang dipimpin oleh kaisar sendiri. Sayap kanan nya yang terdiri dari pasukan Armenia, Scandinavia, dan Slavia di bawah komando Theothoro Attaliati. Di sayak Kiri terdiri dari pasukan Yunani yang dipimpin oleh Nikiforo Briennio. Dan terahkir, di posisi belakang yang terdiri dari pasukan Saxon, Frank, dan Nordmen dipimpin oleh Andronikos Doukas, rival politik dari sang kaisar.
Kira2 pada tegah hari, pertempuran pun dimulai. Tentara Turki yang menyadari benar kwalitas dari pasukan Romawi yang legendaris menggunakan taktik Hit and Run, dengan mem-provokasi pasukan Romawi dengan panah2 yang ditembakkan secara teratur, tetapi menghindari pertempuran langsung jarak dekat. Seorang pemanah turki yang terlatih konon mampu membidik celah diantara Lorica Segmentata, baju tempur romawi. Taktik itu sendiri kemudian berhasil memancing pasukan Romawi sehingga barisan depan pasukan Romawi terpisah cukup jauh dari gugus yang dibelakangnya. Ketika Romanus menyadari hal ini, ia memerintahkan pasukannya untuk me-regroup dan kembali ke Camp. Perintah ini tidak sepenuhnya dipahami oleh gugus sayap kanan dan sayap kiri. Mendadak situasi menjadi geting, Arslan yang mengamati jalan-nya pertempuran dari atas bukit memerintahkan seluruh pasukannnya untuk menyerang ke-15.000 pasukan yang dipimpin oleh kaisar. Sayap kanan berhasil bergabung, dan disusul sayap kiri, meskipun terlambat tetapi tetap berbalik dan menggabungkan diri. Sementara gugus belakang, entah karena memang berniat jahat, entah karena kesalahan informasi, pasukan Andronicus Ducas tidak berbalik dan tetap kembali ke perkemahan.
Hasilnya adalah suatu bencana total bagi pasukan Kaisar. Romanus bertahan mati2 an dalam keadaan dikepung oleh pasukan Arslan. Tetapi bagaimanapun pasukan Romawi adalah pasukan yang ter-organisir selama ratusan tahun, dan menunjukkan kwalitas sebagai satu kesatuan tempur yang solid ketika menghadapi situasi sulit. Sebaliknya, Arslan juga tidak ingin melewatkan kesempatan ini begitu saja. Dan, ketika malam tiba, pasukan inti Bizantium hancur seiring dengan Legionaire-nya yang berguguran di tempat mereka bertahan. Malam itu juga Romanus menjadi tawanan Arslan
Sultan kemudian membebaskan Romanus 8 hari kemudian. Tragisnya, Romanus justru menghadapi kudeta dari Caesar John Doukas ayah Andronikos, dan Michael Psellos. Istrinya dipaksa untuk masuk biara, sementara dirinya sendiri dipenjara di Cilicia. Setelah berjanji untuk tidak mengklaim kembali tahta nya dari Kaisar Michael VII Doucas, Romanus justru dibutakan pada 29 Juni 1072, dan meninggal tak lama sesudahnya karena infeksi yang parah dari pembuta'an matanya.
Pada 1084 Turki Saljuk menaklukkan Antioka dan pada 1092 kota Nicea, Kaisar Bizantium berikutnya Alexius I Comnenus, menantu Andronikos Doucas meminta bantuan Paus Urban II untuk mengirimkan expedisi yang kemudian di kenal dunia sebagai Perang Salib.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar