Pada tahun 732 M sepasukan besar yang dipimpin Abdurrahman Bin Abdullah al-Ghafiki memasuki wilayah yang dikenal sebagai Prancis yang sekarang, baik kerajaan Aragon dan Navarre tidak berdaya dengan Abdullah yang di-klaim umat muslim membawa 100.000 pasukan, sementara sejarawan barat meragukan jumlah yang bahkan diklaim di bawah kisaran 80.000, mengingat keterbatasan logistic yang ada untuk mesuplai orang sebanyak itu. Sementara pasukan Frank ditaksir sekitar 30.000 oleh Paul K. Davis , meskipun jumlah pasti masing2 fihak tidak diketahui
Dengan kemampuan-nya yang briliant, Abdurrahman segera menyapu kota2 seperti Arles, Guyenne, Perigord, Saintonge dan Poitu . Prince Eudo of Aquitain yang dikalahkan di sungai Dargogne, mundur dalam keadaan kacau balau hingga jatuhnya ibukota Bordeaux, segera berpaling pada musuh lamanya, Charles Martel, untuk meminta bantuan dalam menahan gempuran bangsa Moor-Barber tersebut.
Segera setelah kejatuhan Bordeaux, Abdurrahman kembali ke sekitar lembah sungai Rhine dan mengempur Burgundy hingga medapatkan hasil kota Lyon dan Besancon. Sementara itu, tentara perintisnya telah maju hingga mencapai kota Sein yang kira2 hanya sejauh 100 mil dari Paris. Raja kaum Frank, Theodorik III, mengutus Charles Martel yang menjabat sebagai dewan kerajaan untuk menghentikan serbuan ini, dengan mengumpulkan segenap kekuatan yang mencakup tentara regular, maupun laskar2 independen yang ada di sekitar Rhine. Tentara ini bukanlah tentara kerajaan yang dapat baris-berbaris dengan ahli, tetapi sebagian besar tidak teratur, mengenakan kulit untuk berpakaian, dengan setengah telanjang dan rambut yang dibiarkan terurai. Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai Charles Martel dalam niat sesungguhnya terhadap Eudo of Aquitain, ada yang berpendapat Charles sengaja membiarkan Abdurrahman menggempur Eudo sendirian, sehingga Eudo yang merupakan rivalitas Charles hancur dengan sendirinya. Tetapi sebagian lagi, yang melihat dari tinjauan teologis, berpendapat Charles membiarkan Eudo bertempur sendirian, dengan harapan tentara Islam mendapat banyak harta rampasan yang membuat semangat jihadnya terkontaminasi oleh ketamakan duniawi.
Tidak ada kepastian yang jelas dimana pertempuran itu terjadi, tetapi para ahli sejarah menyepakati pertempuran itu terjadi di antara kota Poiters dan Tours, di samping sungai Claine dan Vienne, sebagai anak sungai dari Loire. Abbdurahman yang baru saja selesai dengan Poiters, dan melanjutkannya di Tours, terkejut ketika menyadari kedatangan pasukan Charles Martel ketika akan menyeberangi sungai Loire. Abdurrahman memutuskan dengan bijak untuk kembali mundur di dataran antara Poiters dan Tours untuk mendirikan basis perkemahannya. Pada saat yang sama, Charles Martel mendirikan perkemahannya di sebelah barat kota Tours, di antara sungai Claine dan Vinne.
Pada tanggal 12 Oktober 732 M, pertempuran pun dimulai. Catatan Muslim mengisahkan pertempuran berlangsung selama 8-9 hari, sementara umat Nasrani hanya mencatatnya selama 2 hari. Memang, sepanjang hari-hari itu, pertempuran sporadis terjadi di kedudukan kedua belah pihak, tetapi tidak berpengaruh terhadap hasil akhir, kecuali pertempuran hari terahkir yang berlangsung pada tanggal 21 Oktober 732 M. Sebagian dari pasukan Islam sebenarnya enggan untuk melanjutkan pertempuran, mereka lebih memilih untuk membawa pulang harta rampasan perang Aquitain, dan menikmati hasil2 yang telah dicapai selama ini, serta mendirikan basis untuk gerakan-gerakan mereka berikutnya, terlebih kelelahan yang mereka alami dalam beberapa bulan ter-ahkir selama expedisi panjang itu. Di fihak lain, sebagian lagi tetap berkeinginan melanjutkan pertempuran, dan yakin Allah ada di sisi umat muslim mengingat kemenangan2 besar yang telah mereka raih selama ini, terlebih hari itu merupakan awal Ramadhan 114H, bulan yang sangat disucikan oleh umat Islam sedunia. Sementara itu, Charles Martel yang mempelajari pertempuran sporadis yang telah terjadi, memutuskan melakukan modifikasi terhadap infantrynya, dengan menggunakan formasi Phlanax pasukan Macedonia. Formasi ini dapat disejajarkan dengan formasi Cohort Legionaire de Romawi yang legendaries dengan hutan tameng dan tombak menjadi tembok yang kokoh untuk menahan gempuran pasukan Abdurrahaman.
Di hari tanggal 21 Oktober tersebut, Abdurrahman memimpin serangan umum terhadap pasukan Frank yang diikuti setengah hati dengan pasukan Amir2 yang lain. Pertempuran yang kemudian terjadi benar2 dasyat untuk ukuran tahun 700-an, mengingat begitu banyaknya orang yang terlibat di medan pertempuran. Masing2 fihak bertempur dengan keuletan dan kegagahan yang luar biasa, seolah-olah menyadari bahwa pertempuran itu menentukan wajah eropa hingga ber-abad abad kemudian, di penghujung hari, ketika pasukan gabungan Islam mulai berkosentrasi menggempur berbagai gugus tempur pasukan Frank, pertahanan kaum Frank mulai menunjukkan kelemahan yang ditandai dengan banyaknya gugus-gugus tempur Phalanx yang berjatuhan, dan pasukan Islam yakin akan memenangkan pertempuran yang menentukan sejarah barat dan timur tsb. Tetapi Charles yang telah mempelajari pola dan watak pasukan muslim dalam beberapa hari, memerintahkan sebagian pasukan kavalerinya untuk berputar dan menyerang barisan belakang Abdurrahman dan perkemahan yang memuat begitu banyak harta rampasan. Dan, seperti yang diharapkan Charles, konsentrasi pasukan Islam terpecah dan membuat sebagian tentaranya mundur untuk melindungi harta rampasan perang yang melimpah.
Merasa momentumnya telah tiba, Charles memerintahkan gugus-gugus tempur yang masih bertahan untuk melakukan serangan balik dengan gabungan pasukan kavalerinya yang tersisa. Abdurrahan yang terlambat menyadari apa yang terjadi, mencoba sebisa-bisa nya untuk mengembalikan disiplin pasukan Islam yang mulai terdesak, dengan cara mengendari kudanya untuk maju di barisan terdepan. Dan, seperti yang dicatat sejarahwan Islam maupun Nasrani, sebatang panah menancap di tubuhnya yang membuat pasukan utamanya bertambah panik, tetapi berhasil mempertahankan kedudukannya dari gempuran kaum Frank yang mendapatkan semangatnya kembali. Pertempuran ber-ahkir menjelang datangnya malam dengan kerugian besar di kedua belah fihak
Setelah kematian Abdurrahman, fihak-fihak yang sebelumnya bertikai, menjadi semakin sengit bertikai. Pertikaian ini memang telah dan sering terjadi sejak masing2 amir masih berkuasa di Andalusia, jauh sebelum expedisi penyerbuan ke eropa tengah dimulai, dan kemudian berusaha disatukan oleh Abdurrahman dengan cara mengalihkan perhatian pada musuh yang baru, Kerajaan2 Nasrani eropa. Ketika kemudian tidak dicapai kata sepakat, para Amir yang sebelumnya enggan untuk berperang memutuskan untuk kembali ke selatan ke Septemania yang merupakan basis awal expedisi besar-besar’an ini. Sementara pasukan Abdurrahman yang mencoba bertahan menyadari kekuatannya tidak mencukupi untuk melanjutkan pertempuran dan akhirnya juga memutuskan untuk mundur.
Ke-esokan harinya, Charles mendapati perkemahan pasukan muslim telah kosong, dan enggan untuk melakukan pengejaran, dengan alasan, khawatir bahwa pengunduran ini merupakan jebakan. Tetapi sejarahwan menduga bahwa memang sedari awal ia tidak berniat untuk membantu Eudo lebih jauh. Akibatnya, masing2 fihak merasa dihianati.
Pertempuran Tours juga mencatat ketokohan Charles yang makin popular di eropa dan memberikan keuntungan bagi cucunya, Charlemagne dalam expedisi dan kampanye penyatu-an eropa di bawah kepemimpinnya dalam lingkup Carolingian of Holy Roman Empire.
Sabtu, 30 Mei 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)




0 komentar:
Poskan Komentar